|
Keluarga Pilot Sesalkan Saran Petugas Bandara Phuket
Selasa, 18 September 2007 | 07:11 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Keluarga almarhum Arief Mulyadi, pilot pesawat Orient Thai Airways yang tewas dalam kecelakaan pesawat kemarin, menyesalkan saran petugas Air Traffic Control di Bandara Phuket, Thailand yang meminta tetap mendarat pada saat cuaca buruk.
“Padahal papa sudah sempat meminta izin kembali ke Bangkok, tapi pesawat tetap disuruh turun,” ujar Agoeng Bayu Anggoro, 29 tahun, anak sulung almarhum di rumah duka di Jl Mandala 10 G komplek Dwikora, Halim, Jakarta Timur.
Almarhum Arief tewas bersama 86 penumpang pesawat Orient Thai Airways ketika mendarat di Bandara Phuket, Thailand, di tengah cuaca yang kurang bersahabat pada Ahad (16/9) petang. Musibah juga menciderai sedikitnya 42 penumpang lainnya.
Kabar kematian itu diterima Agoeng dari adiknya, Windi Hapsari setelah menerima kabar dari ibunya, Lies Farikha yang berada di Thailand. “Katanya pesawat ayah tergelincir,” ujar Agoeng mengulangi ucapan Windi. Setelah mencari informasi, akhirnya dia tahu ayahnya meninggal ketika dirawat di rumah sakit.
Almarhum Arief meninggal seorang istri, tiga orang anak, dan dua orang cucu. Karir militernya dimulai dari Akademi Angkatan Udara, Jakarta. Setelah lulus pada 2004, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Penerbangan di Yogyakarta selama 1,5 tahun.
Arief sempat ditugaskan ke berbagai tempat seperti Semarang, Madiun, dan Lombok. Karir militernya memuncak ketika ia dipercaya sebagai Komandan Skuadron XVII VIP dengan pangkat Letnan Kolonel. Tugas itu berakhir pada tahun 1993 ketika maskapai milik Angkatan Udara, Merpati Air memintanya mengawaki sejumlah penerbangan domestik.
Ia juga pernah hengkang ke Sempati Air untuk beberap tahun sebelum akhirnya dipercaya sebagai pilot Orient Thai Airways pada 2004. riky ferdianto
INDEKS BERITA LAINNYA :
|