Sulawesi Tenggara masih belum penuhi angka minimal Angka Partisipasi Kasar

Kamis, 27 September 2007 | 20:06 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo mengatakan bahwa Sulawesi Tenggara harus segera mengejar ketertinggalan Angka Partisipasi Kasar (APK) akses pendidikan usia 13 sampai 15 tahun yang hingga saat ini masih belum mencapai angka minimal APK 95 persen. "Seharusnya APK usia 13 samapi 15 tahun sudah mencapai 95 persen pada tahun ini. Tapi Sulawesi Tenggara tenyata masih kurang 11 persen," kata Bambang saat berpidato dalam peresmian hasil-hasil pembangunan pendidikan Sulawesi Tenggara (Sultra) dikantor Gubernur Sultra, hari ini, kamis (27/09).

Kekurangan APK di Sultra ini diketahui dari laporan Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Tenggara, Zalili Zailan. Selain soal APK Zailan juga menyampaikan bahwa tingkat kelulusan siswa SMP dan SMA selama trahun 2005 sampai 2007 di Sultra mengalami penurunan. "Presentase kelulusan SMP/MTs menurun 6,71 persen sedangkan untuk SMU dan MA turun 16,46 persen. Yang sedikit menggembirakan adalah tingkat kelulusan pada siswa sekolah menngah kejuruan, yaitu naik 1,76 persen," kata Zalili.

Untuk mengejar ketertinggalan ini pemerintah daerah Sultra telah melakukan berbagai upaya untuk menngkatkannya. Misalnya dengan menambah fasilitas pendidikan, kemampuan pendidik serta peningkatan anggaran pendidikan yang berasal dari daerah. "Sejak 2005 sampai 2007 anggaran pendidikan pemerintah daerah terus ditingkatkan. Walaupun belum mancapai 20 persen namun kenaikan ini cukup signifikan," kata Zalili.

Dalam laporannya Zalili menerangkan bahwa anggaran pendidikan dari pemerintah pusat untuk tahun 2007 malah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Tahun lalu mereka menerima anggaran senilai Rp 242.582.294.000, sedangkan tahun ini pemerintah pusat menurunkan jumlah anggaran yang mereka terima menjadi Rp 239.576.160.000. Untuk anggaran pendidikan dari pemerimntah daerah di dua tahun terakhir terus meningkat, di 2006 pendidikan mendapatkan anggaran senilai Rp 23.573.093.800 sedangkan tahun ini meningkat menjadi Rp 45.210.660.725.

Gubernur Sultra, Ali Mazi dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa penigkatan anggaran tersebut merupakan komitmen dari pemerintah daerah untuk meningkatkan pendidikan di Sultra. "Kami berupaya untuk menjangkau seluruh masyarakat agar mereka bisa mendapatkan pendidikan bahakan sampai kedaerah-daerrah terpencil," kata Ali Mazi.

Seluruh jajaran pendidikan dan pemerintah daerah Sultra berharap dalam kunjungan Mendiknas kali ini, Mendiknas kedepan lebih memperhatikan masalah pendidikan di Sultra khusunya dalam peningkatan fasilitas dan upaya pemerataan pendidikan hingga kedaerah terpencil.

Harapan mereka mendapatkan sambutan positif dari Mendiknas. Menurut Mendiknas pendidikan didaerah terpencil kedepan akan mendapatkan perhatian yang lebih besar. "Pemerintah akan sangat memperhatikan hal itu baik dari segi siswanya maupun aparat pendidiknya oleh karena itu akan ada pemebrian tunjangan profesi dan khusus untuk guru terpencil," kata Bambang.

Hadir dalam acara ini seluruh pejabat pemerintahan daerah Sultra baik dari aspek pendidikan maupun aspek yang lain. Sedangkan dari pemerintah pusat selain Mendiknas turut hadir juga Dirjen dan Direktur Depdiknas beserta jajarannya. Yang agak unik saat Mendiknas menyampaikan pidatonya, Gubernur Ali Mazi meninggalkan acara karena harus hadir dalam penetapan nomor urut bakal calon Gubernur Sultra untuk periode mendatang. Sehingga ia tidak mendenmgar dan mengetahui apa yang disampaikan oleh Mendiknas secara langsung. Tities Setyaningtyas






Komentar Anda

Kirim