close

Ditemukan Bukti Lagu ”Rasa Sayange” Asli Indonesia

Selasa, 09 Oktober 2007 | 15:22 WIB

TEMPO Interaktif, Solo:Perusahaan Percetakan Negara Lokananta Solo menemukan arsip rekaman lagu ”Rasa Sayange”. Menurut Kepala PPN Lokananta, Roektiningsih, lagu tersebut direkam pada 15 Agustus 1962. ”Sebagai souvenir Asian Games IV di Jakarta,” katanya kepada wartawan, Selasa.

Diketahuinya rekaman tersebut merupakan cidera mata tampak dari sampulnya yang ada tulisannya ”Souvenir from Indonesia, untuk 'the Fourth Asian Games”. Menurut Roektiningsih, lagu itu direkam dan digandakan atas perintah dari Presiden RI waktu itu Ir. Soekarno kepada Menteri Penerangan R. Maladi.

”Pita reel master rekamannya masih ada,” katanya sembari menunjukkan nomor registernya 253.

Dari lagu yang diperdengarkan, penyanyinya lebih dari satu orang. Lagu direkam dalam piringan hitam bersama beberapa lagu lain seperti Sorak-sorak Bergembira, O Ina ni Keke dan Sengko Sengko Dainang . ”Durasi lagi tersebut selama 2 menit 40 detik,” kata Roektiningsih.

Staf Kementrian Pariwisata, Seni dan Budaya Jordi Pariaman, menemui Kepala PPN Lokananta untuk meminta bukti rekaman tersebut. Jodi mengatakan dengan adanya bukti tersebut, Kementeriannya akan melakukan langkah tertentu terhadap Malaysia yang menggunakan lagu Rasa Sayange sebagai jingle iklan pariwisatanya. Imron Rosyid

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda [1] :

  • Wayang india

    biasa jadi maling ngaku kemalingan?!
    cerita wayang mahabarata dan ramayana yang jelas dari india di klaim jawa sebagai budayanya
    cerita hindu india di jiplak jawa se olah2 arjuna orang jawa dan ada di jawa.walaupun arjuna masih digambar berhidung mancung berbeda hidung dengan sipembuat wayang.
    orang jawa itu babu dan kuli
    yang jadi bos,tuan,majikan ,pemilik itu malaysia
    masa pembokat mau klaim tuannya?sedangkan uang milik tuannya jawa cuma buruh,kuli upahan

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan