Hasyim Muzadi: NU Siap Jembatani Rekonsiliasi Hamas-Fatah
Selasa, 23 Oktober 2007 | 15:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi mengatakan bahwa NU siap untuk menjadi mediator bagi rekonsiliasi di Palestina.
"Kita sanggup untuk menjembatani rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah," kata Hasyim seusai menghadiri pertemuan tokoh lintas agama dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang difasilitasi oleh Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda di Gedung Pancasila Departeman Luar Negeri Jakarta, Selasa (23/10).
Menurut Hasyim tawaran dari NU ini telah disampaikan kepada Presiden Abbas dan mendapatkan tanggapan positif. Dan untuk teknis pelaksanaanya akan diatur oleh kedutaan Palestina di Indonesia.
Mengenai target waktu ataupun bentuk dari upaya rekonsiliasi itu, kata Hasyim masih akan dirumuskan lebih lanjut lagi. "Kita akan breakdown dulu dengan kedutaan Palestina, apa bentuknya dan kapan waktunya. Namun saya harapkan ini akan segera terlaksana dalam waktu dekat," kata Hasyim.
Lebih lanjut Hasyim menegaskan bahwa persatuan di Palestina haruslah dikedepankan. Apapun alasannya, tidaklah terpuji apabila kemerdekaan itu masih menyisakan perpecahan di dalam negerinya sendiri. Pertemuan internasional untuk perdamaian Palestina dan Israel yang akan segera digelar, kata Hasyim sama seklai tidak boleh meninggalkan rekonsiliasi di dalam Palestina sendiri.
"Akan lebih terhormat bila negeri itu bersatu dan merdeka daripada merdeka tapi tidak bersatu," kata Hasyim. Dia juga meminta Palestina untuk bercermin pada pengalaman Indonesia saat berjuang merebut kemerdekaan. Indoensia yang lima kali lipat lebih lama di jajah, kata Hasyim baru bisa mendapatkan kemerdekaan itu setelah ada persatuan yang kuat antara seluruh komponen bangsa, baik dari sisi suku dan agama.
Dalam rangka mewujudkan rekonsiliasi ini Hasyim juga menghimbau agar para pemimpin Palestina hati-hati dalam menerjemahkan setiap situasi yang berlangsung di negaranya. Dia mengkritik pernyataan Abbas yang menyampaikan bahwa Hamas telah melakukan kudeta.
Menurut Hasyim pernyataan itu malah akan merugikan bagi bangsa Palestina secara keseluruhan. Selain mendapat tentangan dari Hamas, terminologi kudeta itu bisa saja digunakan oleh pihak luar untuk mengklaim bahwa yang terjadi di Palestina itu bukan penjajahan tapi perang saudara. "Nah ini kan terminilogi yang jelas-jelas akan merugikan bagi bangsa Palestina keseluruhan," kata Hasyim. Titis Setianingtyas





