Kalla: Silaturahmi Hanya Untuk Menghilangkan Budaya Menghujat
Kamis, 25 Oktober 2007 | 19:06 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Wakil Presiden Jusuf Kalla tetap bersikukuh akan mengumumkan posisi politiknya dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 tiga bulan sebelum Pemilu 2009 digelar.
Menurut Kalla, dari pengalaman justru pada waktu itulah nilai efektifitas dan efisiensi sikap politiknya tinggi. Saat ini, kata Kalla, dirinya tetap fokus untuk melakukan tugas sebagai Wakil Presiden.
"Karena saya ini kan posisinya incumbent, jadi nanti tuntutannya pada saat Pemilu itu telah, bukan akan," kata Kalla saat melakukan dialog dengan masyarakat Makassar dan Media Makassar di Gedung Graha Pena Makassar Kamis (25/10).
Pokoknya, kata Kalla, dia akan memutuskan sikap politiknya pada April 2009. Namun, Kalla memastikan bahwa dirinya dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan maju dalam Pemilu 2009 tanpa mau menyebut maju berpasangan atau terpisah. "Nanti dilihat saja APril 2009 saya pulang kampung tidak," kata dia.
Sikap terburu-buru memutuskan diri maju dalam Pemilu 2009, kata Kalla, justru akan memberikan hasil yang tidak maksimal. "Ibarat sepakbola, latihan terus pas bertanding malah tidak semangat atau justru kalah," kata dia.
Kasus Partai Golongan Karya (Golkar) pada Pemilu 2009, kata Kalla, juga patut dijadikan pelajaran. Saat itu Golkar melakukan konvensi dan banyak menguras energi sehingga saat Pemilu semangatnya malah mengendur. "Konvensi itu seperti puncaknya semangat Golkar saat itu, menjelang Pemilu malah turun kemudian mendatar," kata dia.
Kalla mencontohkan, pada Pemilu 2004, umumnya pasangan Presiden dan Wakil Presiden memastikan maju minimal tiga bulan sebelum Pemilu di gelar. "Kalau yang tidak menjabat kan kampanyenya akan-akan, sementara saya kan harus telah melakukan apa sebagai Wakil Presiden," kata dia.
Oleh karena itu, kata Kalla, salah satu syarat dia memutuskan sikap politik pada 2009,Kalla harus bisa memberikan perubahan terhadap Indonesia saat dia menjadi Wakil Presiden terutama pada sektor ekonomi."Jadi saat ini saya bekerja sajalah karena kalau jelek bisa habis," kata dia.
Untuk kesekian kalinya, Kalla juga menegaskan bahwa silaturahmi terhadap sejumlah tokoh nasional dan tokoh daerah di Sulawesi dan Sumatera bukan manuver politik."Ini untuk membina silaturahmi dan untuk memupus budaya saling menghujat, juga untuk membina hubungan pusat dan derah," kata dia.
Karena terbiasa menghujat, kata Kalla, maka apa yang dia lakukan itu terasa luar biasa. Budaya pemimpin dengan mantan pemimpin yang tidak harmonis seolah-olah diciptakan."Jadi habis energi kita kalau terus berpikir seperti itu," kata dia. Anton Aprianto





