Pimpinan DPR: Kesejahteraan Tak Meningkat, Nasionalisme Luntur

Kamis, 25 Oktober 2007 | 19:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua DPR Agung Laksono mengatakan rendahnya tingkat kesejahteraan dan buruknya layanan kesehatan serta pendidikan menyebabkan pemuda kehilangan rasa nasionalismenya. "Kalau pemuda tidak lagi perduli pada masa depannya sendiri, apalagi pada bangsanya," katanya saat membuka seminar 'Qua Vadis Nilai-nilai Sumpah Pemuda dan Pembangunan Bangsa' di Hotel Crown Plaza, Jakarta, Kamis (25/10).

Nasionalisme, menurutnya, tidak bisa ditumbuhkan hanya dengan menyebarkan slogan cinta tanah air kepada masyarakat. Perasaan satu nusa satu bangsa serta satu bahasa yang selama ini selalu ditanamkan pun dinilai tidak lagi menjadi perekat bangsa yang efektif. "Merasa sama-sama hidup makmur adalah perekat paling kuat," katanya.

Karena itu, menurutnya, untuk mengembalikan jiwa nasionalisme dan rasa kebanggaan dihati pemuda dan masyarakat, pemerintah harus meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan membenahi dirinya sendiri. "Dengan pemerintah yang bersih, kehidupan masyarakat yang adil dan makmur baru bisa terwujud," katanya.

Saat ini, sistem pendidikan dinilai sangat buruk. Hal ini menjadi ironis karena anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk pendidikan adalah yang tertinggi dari semua sektor. "Anggaran pendidikan lebih dari 57 triliun rupiah," katanya. Namun anggaran sebesar itu tidak mendongkrat kualitas pendidikan. "Kita hanya satu tingkat di atas Vietnam dan ke 112 di dunia," katanya.

Layanan kesehatan juga dinilai sangat buruk. Ia mencontohkan masih banyaknya kasus gizi buruk dan angka kematian ibu yang masih tinggi. Hal ini, menurutnya, karena anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk kesehatan masyarakat sangat kecil, hanya 2,6 pesen. Padahal Badan Kesehatan Dunia merekomendasikan anggaran kesehatan minimal 15 persen dari anggaran belanja negara. "Jadi ada puskesmas tapi tidak ada dokternya, ada dokternya tapi tidak ada obatnya," katanya.

Kenyataan tersebut menjadikan pemuda tidak lagi memiliki kebanggaan pada bangsa dan pada akhirnya mengerus rasa nasionalisme. Hal ini, menurutnya, diperparah dengan keberadaan narkoba dan mulai menjalarnya budaya konsumerisme. "Banyak pemuda saat ini lebih suka hura-hura daripada mengabdikan dirinya kepada bangsa," katanya.

Hal serupa diungkapkan pembicara seminar Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Tommy Jematu. Lunturnya nasionalisme pemuda, menurutnya, karena pemerintah gagal menunaikan hak-hak masyarakat. "Sekarang bicara nasionalisme seperti bicara di ruang hampa," katanya.

Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Goklas Nababan sependapat. Menurutnya, hal lain yang harus diperhatikan pemerintah untuk mendongkrak nasionalisme pemuda adalah memperbaiki sistem pendidikan. "Selama ini pendidikan tidak pernah berpihak pada rakyat," katanya. Dwi Riyanto Agustiar






Komentar Anda

Kirim