Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kalla Usulkan Pemilu Bukan dengan Mencoblos
Selasa, 13 November 2007 | 23:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Wakil Presiden yang juga Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar) Jusuf Kalla mengundang sejumlah pimpinan partai politik untuk membahas model dan efisiensi anggaran Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 di kediamannya di Jalan Dipenogoro No 2 Menteng Jakarta Pusat.

Kalla juga mengundang sejumlah anggota DPR, terutama Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu. Dalam rapat ini Kalla memperkenalkan pola Pemilu 2009 tanpa menggunakan pencoblosan, tetapi menulis di surat suara, dan sejumlah upaya penghematan komponen anggaran Pemilu 2009.

Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso menyatakan pertemuan ini dilakukan untuk mensosialisasikan ide Jusuf Kalla soal efisiensi anggaran Pemilu 2009. "Tentunya ini butuh dukungan pimpinan Partai Politik karena tujuannya untuk diakomodasi dalam RUU Pemilu," kata Priyo. Pertemuan sampai pukul 09.50 masih berlangsung.

Dalam pertemuan ini, Kalla memaparkan sejumlah ide diantaranya menambah jumlah pemilih dalam satu TPS dari 300 menjadi 1000 dalam pemilihan legeslatif dan 2000 untuk pemilihan Presiden dengan jumlah bilik suara sebanyak enam per TPS. Kalla juga menghemat waktu pelaksanaan dengan asumsi Pemilu legeslatif hanya enam jam dan Pemilu Presiiden hanya butuh 2,5 jam. Jumlah pemilih yang datang diasumsikan sebanyak 80 persen dari pemilih terdaftar.

Dari sisi anggaran, Kalla melakukan penghematan di logistik, peralatan dan penghematan sistem. Dengan asumsi kedua komponen masih bisa dipakai 25 persen dari sisa Pemilu 2004.Penghematan kedua sistem itu menghasilkan angka Rp 3,9 Triliun. Dengan asumsi dana Pemilu 2004 sebesar Rp 15,489 triliu, maka menurut Kalla Pemilu 2009 hanya butuh Rp 10,49 triliun. "Penghematannya beberapa trilun jika dibandingkan dengan usulan KPU," kata Kalla.

Seperti diketahui, KPU mengajukan usulan anggaran Pemilu 2009 sebesar Rp 47,9 triliun. Namun dari Kantor Wakil Presiden anggaran tersebut dipangkas oleh pemerintah menjadi Rp 10,4 trilun.

Sejumlah undangan yang tampak di kediaman Kalla di antaranya Ketua Umum PPP Suryadarma Ali, Presiden PKS Tifatul Sembiring, Ketua DPP Pusat Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Wakil Ketua Umum Golkar Agung Laksono, Ketua Umum Partai PDK Ryaas Rasyid, Ketua Umum Partai PBB M.S. Kaban, Ketua PDIP Panda Nababan, Sekjen PAN Zulkifli Hasan, Ketua Fraksi Golkar Priyo Budi Santoso , Sekjen PBR Rusman Ali, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketua Pansus RUU Pemilu Fery Mursidan Baldan.

Tampak juga Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalatta, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Sebelum pertemuan dimulai, Kalla sempat menunjukkan kepada undangan beberapa contoh surat suara dari negara-negara tetangga seperti Jerman, Filipina, AS, Kamboja, dan Australia. Di depan Menteri Dalam Negeri, Kalla membandingkan surat suara Indonesia yang ukurannya hampir lima lipat dari negara-negara yang dijadikan contoh. "Indonesia ini terlalu besar karena dicoblos, yang lain kartu suaranya kecil dan cukup dengan menulis," kata Kalla. Anton Aprianto

Dari Arsip Majalah TEMPO
Ketika Musim 'Keceh Duit' Tiba  | 20 April 1999
Tak Setuju Subsidi Satu Miliar  | 13 April 1999
Rp 1 Miliar untuk Partai, Kenapa Tidak? | 06 April 1999
Ayo, Rebut Dana Partai Rp 1,5 Miliar  | 06 April 1999
Dana Kampanye Calon Presiden  | 21 April 2003
Mahalnya Ongkos Menuju RI-1  | 31 Maret 2003
Berebut Rp 4 Triliun Uang Pemilu  | 24 Maret 2003
Hanyut Terbawa Mimpi | 09 September 2002
Dulu vw, sekarang sepeda motor | 11 Januari 1992


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

KPK Periksa Syaifullah Yusuf
Dana Kampanye Pasangan Yudhoyono dan Megawati Diduga Fiktif
Amien Rais Tak Gubris Permintaan Kalla
Bupati Temanggung : Koalisi Busuk Para Koruptor yang Ingin Saya Turun
Ribuan Masyarakat Temanggung Turun ke Jalan
SBY Minta Pemerintah Jelaskan Dana Kampanye
KPU Sumsel Bingung Soal Dana
KPU Negosiasi Harga dengan Akuntan Publik
Gus Solah Tidak Tahu Soal Dugaan Penyumbang Dana Kampanye Fiktif
KPU Jambi Belum Terima Laporan Dana Kampanye
> selengkapnya...

Referensi

Dari Dana hingga Pendidikan
PP RI No. 51 Tahun 2001 Tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk111512 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Diduga Perampok, Mobil Fortuner di Hancurkan Massa
Empat Calon DPD Sumatera Selatan Terancam Gugur
Verifikasi Faktual DPD Lampung Terancam Molor
Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD

<< November,2007>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data