|
Polutan Organik Persisten Berpotensi Menyebabkan Kanker
Rabu, 14 November 2007 | 18:56 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Senyawa yang tergolong Polutan Organik Persisten (POP) berpotensi menyebabkan kanker, liver, kerusakan sistem syaraf, abnormalitas dan gangguan sistem hormon endokrin.
"Senyawa ini berbahaya karena mengandung racun," kata Kepala Pusat Pengendalian Dampak Lingkungan (Pusarpedal) Kementerian negara Lingkungan Hidup, Halimah Syafrul kepada Tempo seusai pembukaan Simposium Internasional Polutan Organik Persisten (POP) di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Rabu (14/11).
Ia menambahkan, sifat senyawa yang tergolong persisten menyebabkan senyawa ini susah hilang dan masih ada di sekitar kita.
Sekretaris Menteri Negara Lingkungan Hidup, Arief Yuwono mengatakan hingga 1993, Indonesia masih menggunakan senyawa DDT yang tergolong POP dalam bentuk pestisida untuk membasmi hama di tanah-tanah pertanian. "Namun setelah Indonesia meratifikasi Konvensi Stockholm tahun 2001 penggunaan senyawa POP dilarang di Indonesia," ujarnya. Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomer 74/2001 untuk melarang penggunaan senyawa tersebut.
"Kami mengambil sampel air, sedimentasi tanah di lima sungai di pulau Jawa, selama dua kali setahun sejak tahun 2001 dan menemukan senyawa POP dalam jumlah yang cukup besar," ujarnya.
Adapun sungai-sungai yang menjadi sampel penelitian adalah sungai ciliwing, banjir kanal barat, banjir kanal timur, sungai surabaya, sungai rungkut dan pelabuhan tanjung perak (surabaya). Amandra Mustika Megarani
INDEKS BERITA LAINNYA :
|