Minat Atas Green Building Meningkat
Minggu, 18 November 2007 | 10:36 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Jumlah perusahaan-perusahaan pengguna gedung perkantoran di kawasan Asia Pasifik yang bersedia membayar sewa lebih mahal (premium) untuk gedung ramah lingkungan (green building) menunjukkan peningkatan.
Menurut hasil survey perusahaan konsultan property Jones Lang LaSalle, peningkatan selama tiga tahun terakhir hampir tiga kali lipat. Pada tahun 2005, baru 11 persen responden pengguna gedung yang bersedia membayar premium rental. Di tahun 2007 ini sudah meningkat menjadi 64 persen.
?Preferensi pasar di kawasan ini (Asia Pasifik) bisa berubah,? kata Country Head Jones Lang LaSalle Indonesia Nick Van Helden, dalam paparan via surat elektronik. Permintaan dari pengguna akan menjadi pendorong bagi developer dan investor untuk mengadopsi konsep ramah lingkungan dan menerapkannya dalam sistem operasional gedung mereka.
Kecenderungan tersebut diperkirakan akan melanda kawasan Asia Pasifik seiring menguatnya isu perubahan iklim. Jakarta juga diyakini tak luput dari kecenderungan itu. ?Perusahaan asing atau MNC (multi national company) akan menjadi pelopor yang menghembuskan tren ini di pasar domestik,? kata Nick.
Menurut Angela Wibawa dari bagian Office Leasing Jones Lang LaSalle Indonesia , saat ini sudah banyak perusahaan asing yang menanyakan fitur-fitur terkait dengan efisiensi dan konservasi energi sebuah gedung ketika mereka sedang memilih ruang kantor sewa.
Chairman Jones Lang LaSalle Indonesia Lucy Rumantir mengatakan, tinggal tunggu waktu saja kecenderungan gedung ramah lingkungan itu melanda Jakarta. Investasi untuk bangunan ramah lingkungan memang tinggi. Namun, ?Potensi keuntungan developer baik finansial maupun non-finansial sangat signifikan,? katanya yakin.
Head of Research Jones Lang LaSalle Indonesia Anton Sitorus menambahkan, trend gedung ramah lingkungan sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1990-an. Namun pada waktu itu, konsep tersebut lebih banyak diterapkan pada unsur arsitektur bangunan saja.
Dewasa ini, penerapan konsep tersebut dikembangkan pada berbagai unsur mulai dari desain, material bangunan, pemanfaatan mesin/alat berteknologi canggih sampai kepada sistem pengendalian dan perawatan bangunan.
Anton menjelaskan, pengembangan tersebut melahirkan konsep Zero-Energy-Building (ZEB) yaitu gedung yang keperluan energi operasionalnya dipasok oleh gedung itu sendiri setelah periode tertentu. Caranya dengan mengoptimalkan sumber energi matahari maupun angin dan menekan penggunaan energi konvensional.
Di kawasan Asia, tercatat dua negara telah memulai pembangunan ZEB ini yaitu China (Pearl River Tower) dan Singapora (BCA Academy Building). Harun Mahbub





