PBSI Masih Andalkan Pemain Senior di Olimpiade 2008

Minggu, 18 November 2007 | 10:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) masih harus mengandalkan pemain-pemain senior yang usianya sudah tidak muda lagi pada dua event penting, Thomas-Uber dan Olimpiade 2008. Ketua PBSI Sutiyoso mengakui hingga saat ini belum muncul pemain muda yang bisa diandalkan untuk menggantikan seniornya pada ajang turnamen internasional. Taufik Hidayat pun masih menjadi tumpuan untuk mempertahankan "Belum ada yang kelihatan bibit muda dari daerah di Kejurnas ini," katanya saat ditemui pada malam pertandingan final Kejurnas PBSI 2007 di GOR Bhinneka Solo, Sabtu (17/11).

Di semua nomor yang pertandingkan untuk kategori dewasa, medali emas direbut oleh pemain yang dipersiapkan untuk menghadapi SEA Games Desember mendatang. Taufik Hidayat menjadi jawara tunggal putra, sementara ganda putra dikuasai pasangan Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto. Di ganda puteri, Greysia Polii/Jo Novita (DKI) meneguhkan posisinya sebagai ganda terkuat. Demikian pula di ganda campuran, pasangan Nova Widianto/Lilyana Natsir (DKI) tak terkalahkan. Hanya ditunggal putri, Aprilia Yuswandari, yang tidak diunggulkan meraih medali emas. Namun atlet Jawa Timur itu merupakan binaan PB PBSI di Cipayung.

Sutiyoso mengakui, pemain senior seperti Taufik Hidayat masih tetap menjadi andalan utama Indonesia hingga Olimpade 2008. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini bahkan mengakui sampai harus membujuk menantu Agum Gumelar ini agar tetapi berkonsentrasi hingga Thomas Cup dan Olimpiade Beijing. ?Sebenarnya saya kasihan juga sama dia karena terlalu lama menanggung beban sebagai pemain utama, meski di Cina juga ada Lin Dan yang juga cukup lama jadi tumpuan. Saya bujuk-bujuk dia supaya masih berkonsentrasi hingga Thomas Cup dan Olimpiade Beijing. Setelah selesai silakan kalau mau istirahat, apalagi dia sudah punya anak dan isteri,? katanya.

Taufik Hidayat mengatakan belum memiliki rencana untuk gantung raket. Menurut dia, kapanpun dia bisa saja memutuskan untuk istirahat. Taufik mengakui bila prestasinya tidak sehebat dulu tetapi dia merasa masih sanggup bersaing dengan pemain lain. Menurut Taufik, Kejurnas perorangan tahun ini merupakan kejurnas terakhir yang diikutinya. Dia mengatakan pada Kejurnas mendatang lebih baik kesempatan diberikan kepada para pemain yang lebih muda. ?Tahun depan Kejurnas beregu, kemudian tahun depannya lagi lebih baik memberi kesempatan kepada pemain lain yang lebih muda,? ujarnya.

Terpisah, Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB PBSI Lius Pongoh juga mengakui tidak adanya bibit muda seperti Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro atau Simon Simon yang tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk memperlihatkan prestasi. Minimnya pemain baru, membuat PBSI pada tahun ini terpaksa tidak melakukan seleksi nasional seperti tahun sebelumnya untuk menjadi pemain pelatnas. Sebagai gantinya PBSI mengganti dengan program magang. Lius Pongoh mengatakan baru tahun depan seleksi nasional akan dilangsungkan kembali. "Bibit muda sebenarnya masih ada, tetapi butuh waktu lama, tidak bisa seperti Taufik, Sony atau Simon," kata dia.

Dalam pertandingan final Kejurnas Sabtu (17/11) malam lalu, Taufik Hidayat membekap unggulan pertama, Sony Dwi Kuncoro dengan skor 21-19, 9-21 dan 21-16. Pasangan Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto memastikan sebagai pemenang setelah mengandaskan perlawanan pasangan ganda Markis Kido/Hendra Setiawan dengan pertarungan tiga set, 21-18, 17-21, 21-19. Di tunggal puteri, Aprilia Yuswandari membekuk seniornya Fransiska Ratnasari 21-19, 21-19. Di nomor ganda puteri, Greysia Polii/Jo Novita menang 21-16, 24-22 atas pasangan Nintya K/Lita Nurlita. Pasangan ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir menundukkan Tantowi Ahmad/Yulianti 21-16, 21-10. imron rosyid






Komentar Anda

Kirim