Empat Warga Indonesia Yang Disandera di Somalia Kembali
Selasa, 20 November 2007 | 23:08 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Empat orang anak buah kapal berkewarganegaraan Indonesia yang disandera kelompok bersenjata di perairan Somalia sejak enam bulan lalu hari ini, Selasa (21/11), kembali ke Indonesia. Mereka tiba di Jakarta pada pukul 13.20 WIB dengan menumpang pesawat Yemenia Airways IY 864 ETD.
Keempat anak buah kapal tersebut ialah Ahmad Yunus asal Padang, Jumadi asal Banyumas, Muslimin asal Bandar Lampung dan Sopan Sopian asal Kalianda Lampung Selatan.
Mereka disandera oleh kelompok bersenjata Somalia saat sedang bekerja pada kapal Mavuno 2 milik perusahaan penangkap ikan asal Korea Selatan di perairan Somalia pada 11 Mei lalu. Menurut Muslimin, penyanderaan itu didasari oleh keinginan dari pihak penyandera untuk mendapatkan ganti rugi sejumlah uang. "Mereka minta tebusan uang, tapi saya tidak tahu berapa jumlahnya," kata Muslimin.
Awal mula dari kasus penyanderaan ini, kata Muslimin, adalah saat kapal Movuno 1 dan 2 yang sedang menangkap ikan di perairan Yaman mengalami penurunan tangkapan dan kerusakan. Entah berlandaskan pada alasan apa, tiba-tiba kapal diarahkan berlayar ke Tanzania.
Dari sini kondisi kapal makin tidak baik, maka diputuskan untuk membawa kapal ke Dok untuk diperbaiki. Dok yang dituju semula ialah Dok di Mombasha Somalia, namun karena Dok penuh maka kapal berputar balik ke Yaman. Saat menuju Yaman inilah, pada posisi 230 mill dari daratan, kapal Movuno 1 dan dua dibajak oleh kelompok musliam bersenjata tersebut. Jumlah awak kapal dikedua kapal tersebut ada 24 orang yang berasal dari Indonesia, India, Cina, Vietnam dan Korea Selatan.
"Sedangkan mereka berjumlah 15 orang dan memiliki senjata lengkap, jadi kami benar-benar tidak bisa berkutik," kata Muslimin. Walaupun saat menyandera kapal mereka tidak melakukan kekarasan kepada empat orang WNI tersebut, namun persenjataan yang meraka miliki benar-benar menimbulkan tekanan psikis yang luar biasa pada meraka.
"Kami sama sekali tidak diizinkan turun dari kapal, patuh pada semua perintah mereka, melakukannya dengan segera dan tidak membantah," kata Sopan.
Pada bulan kedua penyanderaan, saat mereka mulai kehabisan makanan, para penyandera mulai memukuli awak kapal yang berasal dari Korea. Mereka meminta agar pemilik kapal menyediakan makanan dengan cara apapun.
"Setahu saya pemilik kapal lalu mengirimkan materi pada penyandera untuk kemudian dibelanjakan makanan. Kami hanya mendapat kiriman beras, terigu, bawang dan kentang," kata Muslimin.
Pada bulan-bulan terakhir penyanderaan, kata Muslimin, tekanan penyandera pada pemilik kapal melalui perwakilannya di kapal semakin besar. Dia yang mengalami sakit perut sempat diajak turun ke daratan untuk berobat ke klinik. Daratan tersebut bernama Hardare, jaraknya satu kilo naik boat ditambah 20 kilo naik mobil.
Saat di daratan ini, kata Muslimin, dia akhirnya paham kalau semua warga di situ sebenarnya tahu ada penyanderaan. Tapi mungkin karena pelakunya orang daerah tersebut, maka meraka tidak ambil peduli.
Penyanderaan ini berakhir pada 4 November lalu. Setelah melalui negosiasi yang panjang antara penyandera dengan tim gabungan yang terdiri dari perwakilan Korea Selatan, Vietnam, Cina, Indonesia dan India, para awak kapal dan kapalnya dibebaskan.
"Memang ada sejumlah uang yang dibayarkan sebagai tebusan oleh pemilik, tapi kami tidak diberitahu berapa jumlahnya," kata Teguh Wardoyo, Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Departemen Luar Negeri, saat menerima keempat ABK tersebut di kantornya.
Saat dibebaskan, Kapal Movuno 1 dan 2 kembali ke Korea Selatan dengan dikawal kapal milik Amerika Serikat. Saat proses pembebasan, kata Muslimin, sempat terjadi ketegangan. "Kami disuruh keluar ke anjungan kapal untuk dicek kondisi dan jumlahnya. Bahkan, kapal AS sempat mengeluarkan tembakan untuk mengusir para penyandera," ujar Muslimin. Masa tegang ini terjadi selama hampir 7 jam, sejak pukul 08.00-15.00 waktu setempat.
Setelah kejadian ini, Muslimin mengaku sedikit trauma. Dia dan teman-temannya memilih untuk tingal di rumah dulu sementara waktu. "Kami mau pulang dulu, tidak tahu kapan akan bekerja lagi," ujarnya.
Setelah pertemuan dengan Departemen Luar Negeri, mereka akan menuju ke perusahaan pengirim mereka terlebih dahulu sebelum pulang, yaitu PT Sandy Genesis dan PT Norindo Mandiri, untuk mengambil sisa gaji sejak mei hingga bulan ini.
"Kami akan memberikan gaji mereka terlebih dahulu sebelum mengirim mereka pulang," kata Maman Suparman dari PT Sandy Genesis. Selama ini, prosedur pemberian gaji buat mereka memang seperti itu. Yaitu dengan mengirimkan gaji meraka dari perusahaan tempat mereka bekerja ke agen di Korea, baru pada agen di Indonesia. Titis Setianingtyas





