Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kalla: Hukum Harus Dinamis
Senin, 03 Desember 2007 | 12:51 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai hukum harus dinamis tidak kaku dan selalu menyesuaikan keadaan, terutama pada aturan penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Sering orang mengatakan beberapa tindakkan Saya melanggar hukum. Bukan melanggar tetapi merubah," kata Kalla saat membuka Seminar Nasional Visi Pembangunan Hukum Nasional 2025 di Jakarta Convention Center, Senin (3/12).

Acara diprakarsai Ikatan Alumni Fakultas Hukum Indonesia (IAFHI) ini dihadiri juga Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara sekaligus Ketua IAFHI Sofyan Djalil dan sejumlah Praktisi Hukum Seperti Adnan Buyung Nasution. Tampak hadir dalam kesempatan itu Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto.

Hukum ke depan, kata Kalla, harus bisa mendorong pertumbuhan ekonomi bukan penghambat. Pemerintah Pusat majupun Daerah, kata Kalla, harus berani menggubah setiap perangkat hukum yang sifatnya menghambat.

"Dalam pemikiran saya, hanya kitab suci yang tidak bisa dirubah. Undang-Undang Dasar 1945 bisa diubah, kenapa turunannnya tidak bisa," kata Kalla. Dengan catatan, kata Kalla, hal itu dilakukan untuk satu tujuan akhir yaitu kesejahteraan rakyat.

Kalla menilai, pikiran yang terlalu kaku melihat hukum menimbulkan negara Indonesia tertinggal dengan Cina bahkan Vietnam. "Kita harus ubah aturan yang bisa menghambat kemajuan," kata Kalla.

Sehari sebelumnya, Kalla menganggap situasi dan kondisi bangsa Indonesia kini jauh lebih baik dan lebih stabil dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagai gambaran, kata dia, saat krisis ekonomi tahun 1998 pendapatan per kapita rakyat Indonesia berkisar pada angka 500-600 dolar. Tapi saat ini pendapatan per kapita telah mencapai sekitar 1.200 dollar, bahkan hampir 2.000 dolar per kapita masyarakat.

Anton Aprianto, Roffiudin, Sohirin


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk112755 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< December,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data