Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Konferensi Perubahan Iklim diwarnai Unjuk Rasa
Senin, 03 Desember 2007 | 13:05 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Puluhan mahasiswa dari berbagai universitas di Bali dan Mataram, NTB, Senin (3/12) melakukan aksi unjuk rasa meminta Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC) lebih keras menekan Amerika Serikat menurunkan emisi karbondioksidanya. Bila tidak, UNFCCC dianggap hanyalah alat untuk melanggengkan posisi AS sebagai penguasa dunia.

?Sudah saatnya ketidakadilan global kita lawan,? teriak Nandang Astika, koordinator aksi itu. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan, ?AS dan Pemerintahan SBY?Kalla Harus Bertangungjawab atas Kerusakan Lingkungan di Indonesia?. Demontrasi di area monument Badjra Sandhi, Denpasar ini diamankan oleh puluhan aparat kemanan.

Dalam selebaran yang dibagikan, mereka yang menamakan diri Aliansi Rakyat untuk Demokrasi dan HAM menegaskan, keengganan AS untuk meneken Protokol Kyoto merupakan bukti keangkuhan negara itu. AS dituding tetap memilih energi fosil untuk melindungi kepentingan ekonomi mereka dan tidak mau berpikir mengenai dampak yang dirasakan oleh rakyat miskin negara-negara berkembang.

Astika menegaskan dalam orasinya, negara-negara maju seperti AS telah juga berperan besar dalam perusakan lingkungan melalui proyek-proyek mereka di negara berkembang. Seperti yang terjadi di Sumbawa dan Papua. ?Tapi rakyat disana tetap miskin meskipun alamnya dieksploitasi,? tegasnya.

Tanpa tekanan kepada AS, mekanisme apapaun dianggap hanya akan makin menyengsarakan rakyat. Penurunan emisi melalui sektor kehutanan misalnya, dinilai hanya menjadikan hutan di negara berkembang sebagai toilet karbon negara maju. ?Lagipula rakyat di sekitar nantinya malah bisa diusir karena dianggap mengganggu hutan,? kata Wenslaus, aktivis mahasiswa asal Papua. Sikap Indonesia sebagai tuan rumah yang memilih menjual hutan daripada menekan AS dianggap sebagai sikap yang memalukan bangsa Indonesia. Rofiqi Hasan


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk112757 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Diduga Perampok, Mobil Fortuner di Hancurkan Massa
Empat Calon DPD Sumatera Selatan Terancam Gugur
Verifikasi Faktual DPD Lampung Terancam Molor
Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD

<< December,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data