Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasehat Fuad Hassan: Jangan Jadi Perokok
Jum'at, 07 Desember 2007 | 20:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Beberapa hari sebelum tutup usia, Fuad Hassan berpesan agar keluarganya tidak ada yang mengikuti jejaknya sebagai perokok.

“Beliau juga mendorong saya untuk bisa berkuda dan main biola,” kata cucu Fuad Hassan, Amira Waworuntu ketika dihubungi Tempo Jum'at petang (7/12). “Juga ingin dikenang sebagai orang yang apa adanya.”

Amira mengatakan kakeknya yang pernah menjabat sebagai menteri pendidikan itu telah menderita kanker paru-paru stadium III sejak tahun lalu, dan sejak seminggu terakhir dirawat intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. "Kondisinya memburuk hari ini dan masuk ICCU,” ujar mahasiswi Antropologi FISIP UI itu.

Tampak melayat Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Feisal Tanjung, psikolog Sarlito W Sarwono, dan mantan Rektor IKIP Jakarta Profesor Conny Semiawan.

Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Rusliwa Somantri menilai mengenang Fuad Hassan sebagai sosok yang memikirkan masa depan dan pendidikan bangsa. "Beliau mendambakan anak didik yang tidak hanya cerdas tetapi memiliki moralitas tinggi," ujarnya kepada Tempo.

Gumilar juga mengenal Fuad sebagai pecinta seni dan seniman. "Beliau sangat menyukai seni lukis dan seni musik terutama biola," katanya.

Terakhir dia bertemua Fuad sekitar tiga pekan lalu saat membesuk di kediamannya. Namun karena waktu itu Fuad sedang tidur, "Saya hanya memandangi beliau saja."

Menurut Kepala Pusat Hubungan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional, Bambang Warsito Adi, rencananya, jenazah akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata selepas dhuhur. Putra Fuad, Amris Hassan yang menjadi Duta Besar di Selandia Baru dijadwalkan tiba di Jakarta pagi ini. Amandra Mustika Megarani | Cheta Nilawaty

Dari Arsip Majalah TEMPO
Perginya Sosok Teduh, Buya Ismail | 04 April 2005
Mengenang Kuntowijoyo Membangun Jembatan | 28 Pebruari 2005
Dia yang Tak Pernah Takluk | 28 Pebruari 2005
Pastor Jenaka yang Tajam | 28 Pebruari 2005
In Memoriam | 28 Pebruari 2005
Album | 28 Pebruari 2005
Pak Kiyuk Telah Tiada  | 08 Desember 1998
Album | 17 Januari 2005
Meninggal  | 10 November 1998
Meninggal  | 13 Oktober 1998
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Penulis Marianne Katoppo Meninggal Dunia
Sujudi Meninggal Diduga Akibat Serangan Jantung
Mantan Menteri Kesehatan Sujudi Meninggal
Sejumlah Tokoh Hadiri Pemakaman Ketua Dewan Dakwah
Ibu Kandung Bambang Sudibyo Meninggal
Edy Sudrajat Meninggal Dunia
Kritikus Sastra Dami Telah Tiada
Aberson Marle Sihaloho Berpulang
Dana Rehab Korban Gempa Resmi Dibagi Rata
Hymne dan Mars ITB Itu Tiada
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk113143 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< December,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data