Pengadaan Sarana Pertahanan Dialihkan ke Produk Dalam Negeri
Sabtu, 08 Desember 2007 | 00:04 WIB
TEMPO Interaktif, Bandung:
Wakil Presiden Jusuf Kalla megatakan pengadaan alat utama sistim pertahanan (alutsista) akan dialihkan ke produksi dalam negeri. Menurut hitungannya, pemakaian persenjataan dalam negeri akan menghemat anggaran hingga 60 persen.
"Presiden meminta alutsista tentara dari dalam negeri. Saya diminta mengevaluasi semua alutsista yang ada di Bandung ini, yang harus selesai tahun ini," kata Jusuf Kalla usai meninjau PT Pindad di Bandung, Sabtu (8/12).
Pemerintah, kata Kalla, menginginkan industri pertahanan dalam negeri seperti PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, dan PT PAL dapat memenuhi kebutuhan tentara. "Kita alihkan semua dari luar negeri ke dalam negeri" katanya.
Dia mengatakan, dengan menggunakan produk industri pertahanan dalam negeri, anggaran negara bisa dihemat hingga 60 persen. Kalla mencontohkan, harga panser impor mencapai Rp 10 milyar per unit. Sedangkan harga produk sejenis hasil PT Pindad hanya Rp 4,5 milyar. "Lengkap dengan senjata hanya Rp 5,5 milyar. Lebih murah 50 sampai 60 persen."
Karena itu, pemerintah akan memesan panser sebanyak 150 unit dari PT Pindad. Pesanan tersebut harus selesai dalam waktu setahun.
Dalam rencana pemerintah jangka menengah, belanja alat pertahanan mencapai US $ 3,7 milyar. Mengenai pembiayaan, Kalla mengatakan sudah tidak masalah. Tiga bank pemerintah, yakni BRI, BNI dan Bank Mandiri siap memberikan kredit dengan jaminan penuh dari pemerintah. "Pemerintah akan melunasi kredit pada tahun anggaran berikutnya" kata Kalla.
Turut hadir dalam acara di Bandung tersebut Kepala Bappenas Paskah Suzeta, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan Syafrie Syamsudin, Direktur Utama BRI Sofyan Basir, dan Direktur Utama PT Pindad Adik Sudarsono.
Dalam kesempatan itu, Kalla sempat menyaksikan panser buatan PT Pindad. Dia mencoba untuk masuk dan duduk dalam panser tersebut. Di sana juga dipamerkan berbagai senjata, meriam, dan produk rekayasa Pindad lainnya.
Direktur Utama PT Pindad mengatakan siap memenuhi pesanan pemerintah ini. “Trget per bulan 10 buah panser. Tapi ada perubahan mesin dari 220 horse power (tenaga kuda) menjadi 300 HP dan dilengkapi senjata" ujar Adik. Sutarto/Ahmad Fikri






Komentar Anda :