|
Amin Rais: Koruptor Terbesar Adalah Pemerintah
Kamis, 13 Desember 2007 | 17:41 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Amin Rais menilai mundurnya kesejahteraan bangsa karena pemimpin negeri ini telah menutup mata hatinya sehingga tidak bisa melihat kenyataan riil di masyarakat. "Rakyatnya miskin, pemimpinnya main gitar, nyanyi-nyanyi," katanya dalam diskusi terbatas di Hotel Sarifan Pasific Jakarta, Kamis (13/12).
Ketidakpedulian pemimpin dan pemerintah kepada masyarakat , kata dia, terlihat dari kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang hanya menguntungkan pihak asing. Ia mencontohkan beberapa perusahaan asing yang memonopoli dan mengeruk keuntungan sumber daya alam milik bangsa ini. "Kita telah menggadaikan sumber daya alam pada coorporate asing," katanya.
Selain itu, lanjutnya, keberpihakan pemerintah pada pihak asing juga terlihat dari undang-undang kehutanan, undang-undang penanaman modal, serta undang-undang migas yang sangat menguntungkan perusahaan asing. "Jadi koruptor terbesar adalah pemerintah sendiri," katanya.
Hal serupa diungkapkan Siswono Yudho Husodo. Penguasaan pihak asing dalam pertambangan, kata dia, hampir 100 persen. Ia mencontohkan sektor pertambangan tembaga dan emas yang 100 persen dikuasai asing. Selain itu, lanjutnya, "96,6 persen muatan kapal laut dikuasai asing."
Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Marwah Daud Ibrahim menambahkan, penguasaan asing terhadap sumber daya alam karena bangsa ini tidak mandiri. Ketergantungan pada asing, ia mencontohkan, bisa dilihat dari statistik negara pengimpor. Indonesia, kata dia, adalah negara pengimpor terbesar di dunia. "Beras saja kita masih impor 3,7 juta ton per tahun," katanya.
Ketergantungan pemerintah kepada pihak asing, kata Amin Rais, tidak lepas dari pengaruh penjajahan asing. Dimasa penjajahan, lanjutnya, bangsa ini disebut inlander. Penjajahan membentuk struktur mental bangsa menjadi mental budak. "Akibatnya bangsa ini jadi kurang percaya diri yang selalu menunggu bantuan orang lain," katanya.
Dwi Riyanto Agustiar
INDEKS BERITA LAINNYA :
|