Perundingan Bali Molor
Sabtu, 15 Desember 2007 | 07:18 WIB
TEMPO Interaktif, Nusa Dua:Konferensi Persatuan Bangsa Bangsa untuk Perubahan Iklim tertunda. Perundingan, yang seharusnya berakhir kemarin, terus berlangsung sampai lewat tengah malam. Yvo De Boer, Sekretaris Eksekutif Konferensi, membantah konferensi telah menemui jalan buntu. "Jelas sekali tidak ada deadlock. Lebih tepat disebut di ambang kesepakatan," katanya.
Profesor Emil Salim, Ketua Delegasi Indonesia, juga menegaskan bahwa perundingan tidak gagal. "Ini masih terus dirundingkan," katanya. Menurut Emil, beberapa poin penting sudah berhasil disepekati. Namun, Emil enggan menjelaskan poin apa saja yang dimaksud.
Di tengah alotnya perundingan, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, yang sudah telanjur terbang ke Timor Leste, dilaporkan hari ini akan kembali ke Bali. "Saya akan terlibat dalam perundingan lebih lanjut," katanya.
Tarik-ulur target reduksi emisi karbon menjadi pemicu utama alotnya perundingan. Draf "Peta Jalan Bali" menyebutkan bahwa negara maju wajib memangkas emisi karbon 25-45 persen dari tingkat emisi 1990, pada 2012 nanti. "Ada negara yang menginginkan angka itu dimasukkan, ada yang tidak," kata de Boer.
Yvo de Boer memang tidak menyebutkan persisnya negara mana saja yang menolak target pemangkasan emisi. Tapi, sedari awal perundingan, keberatan soal muncul dari "the gang of four", yakni Amerika, Australia, Kanada, dan Jepang.Eropa bahkan
Apabila negara maju keberatan dengan target reduksi emisi, negara berkembang memiliki isu yang lain. Bangladesh, misalnya, dikabarkan menyampaikan protes karena adanya tekanan terhadap negara berkembang dalam draf "Peta Jalan Bali", bahkan termasuk adanya sanksi ekonomi. Oleh karena itu, negara berkembang (G77) berunding khusus dengan dipimpin Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda.
ANDREE | WURAGIL | FANNY





