Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Geger Riyanto

Peluang Dialog Agama
Jum'at, 21 Desember 2007 | 12:12 WIB

Beberapa bulan yang lalu, 138 intelektual muslim memadukan suara dan mengirimkan surat kepada Paus Benediktus XVI serta sejumlah pemimpin Kristen lainnya, yang isinya mengimbau terciptanya dialog antara umat Islam dan Kristen. Dalam surat yang berjudul "A Common Word Between Us and You" tersebut, mereka menuturkan bahwa kedua umat perlu menangguhkan keberbedaan mereka dan memahami bahwa Tuhan mereka adalah sama dan pada dasarnya, Dia memerintahkan setiap manusia saling mengasihi.

Tapi Adrian Pabst, pengajar agama dan politik dari University of Nottingham, mengkritik habis pernyataan ini. Menurut dia, tidak mungkin benar-benar tercipta dialog di antara keduanya, karena sifat Tuhan masing-masing agama begitu berbeda. Tuhan dalam teologi Kristen memiliki tiga sifat, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus, dengan kedudukan yang sama, atau diistilahkan sebagai trinitas. Adapun dalam Islam, Tuhan bersifat tunggal, sebagaimana yang tecermin dari pernyataan "tiada allah selain Allah". Menurut Pabst, yang diperlukan saat ini bukanlah dialog, melainkan perdebatan mencari siapakah yang paling benar.

Pernyataan Pabst begitu provokatif, tapi terasa benarnya. Hal itu tecermin dari perayaan Idul Adha dan Natal yang jatuh berdekatan pada bulan ini. Dalam kitab Kejadian yang dipegang umat Kristen diceritakan bahwa anak kesayangan yang dikorbankan Abraham (Ibrahim) bukanlah Ismail, melainkan Iskak. Sementara itu, dari sudut pandang teologi Islam, Isa (Yesus) adalah nabi yang diutus oleh Allah dan tidak sepatutnya disembah atau diberhalakan sebagai Tuhan.

Pabst tampaknya berkeyakinan bahwa sekularisasi adalah sebuah keniscayaan, yakni agama yang tidak dapat mempertahankan relevansinya dengan keadaan modern akan tereliminasi karena tidak diminati lagi oleh manusia yang semakin rasional. Agama yang paling tinggi adalah yang paling rasional, yang tetap mampu menjawab persoalan dan kegundahan eksistensial yang dialami manusia, meskipun ilmu pengetahuan yang canggih telah hadir. Dari sinilah muncul anggapan bahwa perdebatan teologis dan historis antarkeyakinan akan mengakhiri konflik di antara agama-agama, karena mereka yang kalah seketika akan tersingkir.

Sebelumnya, sosiolog Max Weber berpandangan bahwa agama Yahudi adalah salah satu agama tertinggi karena mengajarkan bahwa Tuhan adalah entitas yang tunggal, tertinggi, absolut, sehingga tidak dapat diidentifikasi dengan segala yang berwujud di dunia ini. Dengan demikian, agama Yahudi dapat menepis segala pembuktian ilmu pengetahuan bahwa tidak ada entitas yang berwujud yang mengatur semesta ini.

Namun, pemikiran berhaluan sekularisasi telah kehilangan relevansinya, karena tak bisa dinafikan bahwa fundamentalisme tengah menjadi fenomena. Meski para penyelidik terus mengetengahkan bahwa Yesus adalah manusia dengan bukti temuan makamnya, akankah itu meruntuhkan keyakinan yang telah hidup selama nyaris dua milenium begitu saja?

Persoalannya, dapatkah fakta ilmiah menawarkan keamanan dan kenyamanan hidup bagi mereka yang terbiasa di bawah lindungan payung sucinya?

Perdebatan belum tentu memecahkan persoalan ini, karena pencerahan yang ditemukan darinya hanya dapat dinikmati oleh kalangan elite intelektual, mereka yang memiliki gairah dalam praktek penghancuran kebenaran awam. Tapi, bagi yang tidak menikmatinya, mereka dapat dengan mudah memalingkan muka dari fakta-fakta ilmiah. Taruhlah kalangan Kristen Evangelistis. Sebagian dari mereka meyakini bahwa bukti-bukti ilmiah, seperti fosil dan artefak, yang menentang kebenaran versi Alkitab adalah obyek-obyek yang sengaja ditaruh Tuhan untuk menguji kadar keimanan mereka. Sederhananya, seperti yang diungkapkan Carl Gustav Jung, "Aku tetap percaya, meskipun segalanya di dunia ini menjadi bukti yang menyerang keyakinanku."

Menurut hemat saya, ketegangan antaragama tidak dapat dipecahkan dengan perdebatan atau konfrontasi langsung. Ketegangan antarumat mesti diselesaikan dengan menemukan kesamaan yang tak terdefinisikan, kesamaan yang menembus batas-batas teologis. Bila secara nalar mustahil mempertemukan agama-agama dengan perbedaan teologis yang begitu tajam, tapi mengapa seruan berdialog tak kunjung usang diembuskan?

Satu hal, karena pada setiap agama terkandung sifat kebaikan hakiki yang hanya dapat dirasakan secara afektif atau intuitif. Mungkin kita tidak dapat memberikan alasan kesamaan apa yang ada di antaranya, tapi kita merasakannya. Psikolog Michael Schulman menunjukkan bahwa seorang siswa taman kanak-kanak akan menurut bila dilarang gurunya makan di kelas, tapi apabila gurunya memperbolehkan mendorong siswa lain dari bangkunya, seorang anak akan mulai mempertanyakan otoritas gurunya itu.

Marc Hauser, profesor psikologi dari Harvard University, mengatakan bahwa setiap orang memiliki dorongan moral, hanya dorongan yang universal itu tidak terbakukan dalam peraturan dan dirasakan melalui intuisi. Hal yang membuat setiap agama memiliki jejak dalam sejarah manusia adalah ketidakmasukakalannya, pertentangan antara ajarannya dan logika mayoritas saat itu. Tapi entah bagaimana, kita dapat merasakan bahwa ajaran itu benar. Agama mengajari manusia untuk menjiwai kebaikan yang hakiki melalui revolusi moral terhadap ajaran-ajaran lama yang telah membeku oleh otoritas.

Teologi agama adalah upaya menancapkan kepastian terhadap apa yang dimaksud dengan kebaikan agar kebaikan yang sebelumnya dirasakan secara intuitif dapat dipahami oleh nalar manusia dan tersampaikan kepada yang lain melalui bahasa. Dari sini dapat dipahami bahwa teologi adalah tubuh bagi jiwa agama yang revolusioner sekaligus welas asih. Dan transendensi agama tidak terletak pada teksnya semata, tapi pada apa yang menyangga sehingga teks itu tetap terasa segar pada masa kini.

Dialog memungkinkan tiap-tiap agama berbagi konsepsinya yang "tak sama tapi serupa" tentang kebaikan. Dan perbedaan itu tak mengapa, karena siapa pun--bahkan dalam penelitian Schulman adalah anak TK--dapat membedakan yang benar dengan yang salah. Yang perlu disadari seseorang sebelum berbuat baik terhadap yang lain hanyalah mereka adalah sesama manusia, itu pun sudah cukup. Walau kita "tahu" bahwa kebenaran kita berbeda, kita cukup semudah "merasakannya" untuk sadar bahwa kita sama.

Geger Riyanto, PENEKUN SOSIOLOGI PENGETAHUAN UNIVERSITAS INDONESIA


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pekerjaan Rumah Panglima TNI
Lima Jurus Menolak Kenaikan Tarif Busway
Terperangkap Teks Hukum
Bali Harus Mengikutsertakan Negara Berkembang
Illegal Logging dan Pencucian Uang
Nasionalisme Gosong Kaum Muda Papa
Rekonstruksi Nasionalisme Kaum Muda
Dilema Golkar, Dilema Jusuf Kalla
Surat Terbuka untuk Gubernur Foke
Mewaspadai Keandalan Transportasi Arus Mudik
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk113937 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Megawati Tidak Hadir di KPU
Yenny Wahid Protes di Depan Jusuf Kalla
Pengurus Partai Politik Mengambil Nomor Urut di KPU
Emas Pertama Untuk Aceh
Penerimaan Negara Lampaui Target

<< December,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data