|
Wiranto Nilai Pemerintah Belum Entaskan Kemiskinan
Jum'at, 21 Desember 2007 | 22:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Wiranto menilai pemerintah masih belum mengentaskan kemiskinan. Buktinya, angka kemiskinan tak berkurang signifikan dari tahun ke tahun.
"Grafik angka kemiskinan masih datar," katanya dalam peringatan hari ulang tahun pertama Hanura di Kantor Dewan Pengurus Pusat Hanura, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/12) malam.
Menurut Wiranto, data apapun yang digunakan tetap menunjukkan angka kemiskinan belum berkurang. Ia lebih memilih menggunkan data Bank Dunia ketimbang data Badan Pusat Statistik. Alasannya, pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak dan subsidi lainnya tetap meningkatkan
kemiskinan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjawab iklan kemiskinan yang dikeluarkan oleh Wiranto. Menurut Yudhoyono, keadaan Indonesia sekarang jauh lebih baik dari saat krisis terjadi pada 1998.
"Bukan angka kemiskinan yang kita baca di iklan-iklan itu, yang jumlahnya 49 persen. Karena yang kita gunakan data BPS, angka kemiskinan besarnya 16,5 persen," kata Yudhoyono dalam sambutannya pada puncak Hari Ibu di Taman Mini Indonesia Indah, Selasa (18/12).
Wiranto memang memasang iklan tentang kemiskinan di media cetak, televisi, dan radio. Di iklan itu Wiranto mengajak rakyat untuk mengatasi kemiskinan. Angka kemiskinan mencapai 49 persen berdasarkan data Bank Dunia.
"Tentu tidak arif kalau sudah tidak berbuat tapi senangnya menyalahkan, mencerca kami semua yang bekerja siang dan malam," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lebih buruk lagi, kata Yudhoyono, jika ada yang menghambat pemerintah yang sedang bekerja.
Wiranto mengatakan, masyarakat harus bersama-sama mengentaskan kemiskinan. Ia tak membawa bendera partai dalam iklan. "Pemerintah tak bisa sendirian menghadapi kemiskinan. Tepat kiranya saya pasang iklan," katanya.
Apalagi, kata Wiranto, masyarakat tak percaya lagi pada
partai politik. Alasannya, partai-partai tak bisa memenuhi janji mengentaskan kemiskinan. "Saya sebagai Ketua Hanura tanpa bawa atribut partai masuk ruang batin kekecewaan masyarakat," kata dia.
Ia meminta iklan tak perlu diributkan. Ia pun menolak
menanggapi kritik soal iklan itu. "Tidak perlu ditanggapi. Itu (Kritik) merupakan kebebasan berpendapat," kata dia.
PRAMONO
INDEKS BERITA LAINNYA :
|