Hampir Seluruh Wilayah Kota Bojonegoro Terendam Banjir
Minggu, 30 Desember 2007 | 12:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Banjir yang melanda kabupaten Bojonegoro Minggu (30 /12-2007) terus meluas. Kawasan kota, sejak semalam sudah tergenang di hamper 90 porsen wilayah.
Dari 18 keluarahan atupun desa yang ada di kota Bojonegoro semuanya telah terkena luapan air sungai Bengawan Solo. Akibatnya tidak hanya aktifitas warga kota yang lumpuh, kegiatan perkantoran, juga kegiatan perekonomian lumpuh. Aliran listrik juga padam. Beberapa operator seluler mematikan jaringannya.
Air mulai masuk kota sebenarnya sudah sejak Sabtu kemarin. Namun sejak dini hari tadi, luapan air semakin deras. Warga kota sejak kemarin sudah diimbau
menyelamatkan barang-barangnya, dan meninggalkan rumah mereka karena ketinggian air terus meningkat.
Warga memanfaatkan hamper seluruh jalan raya yang belum tergenang air yang ada di kota Bojonegoro sebagai tempat mengungsi. Tapi tidak bisa bertahan lama, karena
jalan yang ditempati juga pada akhirnya digenangi air. "Saya sudah tiga kali pindah tempat mengungsi," tutur Najamudin, 46, warga Ledok Wetan, kecamatan kota
Bojonegoro kepada Tempo.
Semula, kata Najamudin, warga Ledok Wetan maupun Ledok Kulon memanfaatkan gedung serba guna di tengah kota. Tapi Karena genangan air terus meninggi, gedung itupun terendam air. Wargapun berpindah di seputaran alun-alun kota. Warga juga memanfaatkan emperan toko.
Sementara itu, semakin meluasnya genangan banjir di kota Bojojonegoro, menurut Mulyono, Koordinator Pengendalian Dan Pengamanan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air
Wilayah Sungao Bengawan Solo di Bojonegoro, disebabkan karena warga di sekitar tanggul-tanggul sungai membuka pintu tanggul. Padahal, katanya, ketinggian air di
sungai Bengawan Solo saat ini sudah menunjukkan angka 16,22 pada peilschale, atau dari tinggi normal permukaan air laut. Rohman Taufik
Pengungsi Memadati Seluruh Tempat Penginapan di Kota Bojonegoro
BOJONEGORO ? Banjir yang melanda kota Bojonegoro membuat seluruh penginapan,
losmen dan hotel di kota tersebut dipenuhi pengungsi. Warga kota memanfaatkannya
untuk mengevakuasi keluarga mereka. Selain membayar kamar, warga juga memadati
lorong-lorong hotel hingga lobby. Bahkan ada yang bersedia menempati tempat
jemuran di atap bangunan hotel.
Hotel Sahabat di Jl. Rajawali, misalnya, sudah penuh dipesan pengungsi sejak Sabtu
kemarin. ??30 kamar yang ada di hotel kami sudah penuh semuanya,?? kata Purnomo,
respsionis hotel kepada Tempo, Minggu pagi ini.
Hotel lainnya, yakni hotel Wina di Jl. Teuku Umar, hotel Wisma Jaya di Jl. Dr.
Wahidin, hotel Kudus di Jl. Diponegoro, dan hotel Asia di Jl. Trunojoyo, juga
penuh sesak oleh pengungsi. Di hotel-hotel tersebut dipasang papan bertuliskan
?Hotel Sudah Penuh?.
Dari pantau TEMPO, Minggu pagi ini, pengungsi masih terus berdatangan ke
hotel-hotel tersebut. Pengelola hotel tak mampu menghalau mereka.
Bagi para pengungsi yang menempati lorong maupun teras dan lobbi hotel tak
dikenakan bayaran. Tapi yang menempati kamar, dikenakan tariff seperti biasanya.
Seperti di hotel Sahabat, untuk kamar VIP Rp 200 ribu, kelas I, Rp 170 ribu, kelas
II 120 ribu, dan Kelas III, Rp 60 ribu. Namun, bagi pengungsi yang meminta
tambahan tempat tidur tidak dikenakan tambahan harga.
Rohman Taufik
Penanganan Korban Banjir di Bojonegoro Belum Maksimal
BOJONEGORO ? Penanganan korban banjir di kabupaten Bojonegoro belum bisa dilakukan
secara maksimal. Warga yang berada di desa-desa yang terisolir hingga Minggu
(30/12-2007) tidak bisa dievakuasi meskipun rumah mereka sudah tergenang hingga 3
meter dan hanya berdiam diatas atap rumah. Pemantauan terhadap kondisi korban juga
terkendala komunikasi akibat terputusnya aliran listrik.
Pemerintah kabupaten Bojonegoro hanya bisa mendiistribusikan bantuan berupa mie
instant dan air minum kemasan dengan helikopter. Bantuan dibuang langsung dari
udara. Pendistribuasian juga belum bisa menjangkau seluruh wilayah bencana.
Saat ini sudah tersedia 3 unit helikopter. Namun tidak bisa dioperasikan secara
bersamaan, melainkan terbang bergantian.
Selain helikopter juga terdapat 15 perahu karet. 9 unit dari Basarnas Jawa Timur,
dan 6 unit dari Marinir. Menurut Hermanto, Kepala Seksi Operasi Basarnas Jawa
Timur, Sore ini akan ditambah 13 perahu karet. Dengan seluruh perahu karet yang
ada, dupayakan untuk melakukan evakuasi warga, terutama di daerah-daerah yang
terisolasi.
Dibandingkan dengan jumlah desa yang terendam, jumlah helicopter maupun perahu
karet belum cukup.
Seperti diberitakan sebelumnya, jumlah desa yang tergenang 117 desa yang tersebar
di 14 kecamatan. ??Untuk menangani evakuasi di dalam kota saja kewalahan,?? kata
Hermanto dari Basarnas Jawa Timur.
Sementara itu bupati Bojonegoro M. Santoso, ketika ditanya Tempo, belum bisa
merinci jumlah kerugian yang diakibatkan bencana banjir. Santoso mengatakan lebih
mengutamakan penyelamatan para korban. Pemerintah kabupaten Bojonegoro menyiapkan
anggaran Rp 900 juta.
Santoso yang kalah dalam pilkada, mengaku belum mendapatkan data dan laporan
tentang kondisi kesehatan para korban banjir, terutama di desa-desa yang
terisolir. Padahal, warga sudah terisolir sejak Kamis (27/12-2007). ??Belum ada
data dari Puskesmas setempat,?? katanya kepada Tempo.
Rohman Taufik.





