Pengurangan Obat Soeharto Batal Dilakukan

Minggu, 13 Januari 2008 | 18:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Tim dokter kepresidenan batal mengurangi obat-obatan yang diberikan kepada mantan presiden kedua Indonesia Soeharto. Alasannya, kondisi Soeharto hingga kini tidak stabil.

"Tim dokter urung mengurangi obat-obatan karena terjadi keadaan emergency pada paru-paru kiri," kata Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo Soebiandono ketika dihubungi Tempo, Minggu (13/1).

Minggu siang tadi, salah satu anggota tim dokter yang merawat Soeharto, Christian A Yohannes, kepada wartawan menjelaskan hanya fungsi otak dan fungsi pencernaan Soeharto yang saat ini berfungsi dengan baik. Sementara organ pernafasan, jantung, dan ginjal sudah tidak lagi berfungsi. "Semuanya harus dibantu total dengan alat," kata spesialis Anastesi itu.

Semula, kata Mardjo, tim dokter berencana mengurangi jumlah dan jenis obat yang diasup Soeharto. Tujuannya, mengetahui kondisi kesadaran Soeharto yang selama ini dibantu ventilator. Sayangnya, paru-paru kiri Soeharto tersumbat plak. Sumbatan itu telah ditarik tim dokter dan paru-paru kiri mantan penguasa orde baru itu pun mengembang kembali.

Hingga kini, ujarnya, ada 13 jenis obat yang diberikan kepada Soeharto. Di antaranya antibiotik, suplemen makanan, obat untuk menaikkan tekanan darah, obat untuk menidurkan (sedatif atau penenang), dan obat untuk pendarahan lambung.

Menurut dia, intensitas pemberian obat itu beragam tergantung jenis obat. Pemberian atau penghentian obat, katanya, tergantung kebutuhan organ tubuh Soeharto. "Ada yang diberikan setiap enam jam, ada juga yang 12 jam," katanya.

Mardjo mengatakan tim dokter bersama keluarga Soeharto sudah dua kali membicarakan penentuan waktu yang tepat mencabut alat penunjang hidup penguasa Orde Baru itu. Namun pihak keluarga menyerahkan semua keputusan kepada tim dokter. "Kalau semua organ tidak berfungsi, baru akan kami cabut," katanya.
Kurniasih | Mustafa Silalahi






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: