Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Handrawan Nadesul

Belajar dari Kebugaran Soeharto
Selasa, 29 Januari 2008 | 19:05 WIB

Mampu mengulur umur sampai 87 tahun, potensi umur mantan presiden Soeharto jauh di atas harapan hidup rata-rata orang Indonesia, yang sekitar 68 tahun. Selain karena bibitnya bagus, sebagai orang yang berasal dari desa, awalnya juga lantaran pola dan gaya hidup Pak Harto tidaklah modern. Bisa sama panjang dengan umur nelayan Okinawa, Jepang, populasi dengan harapan hidup tertinggi di dunia, 86 tahun, tubuh Pak Harto luar biasa.

Pola dan gaya hidup modernlah penyebab terbesar kenapa orang mati sebelum ajal (premature death). Juga bukan kemauan Tuhan kalau umur rata-rata penduduk Boswana, Afrika, sekarang hanya 35 tahun, sedangkan umur harapan hidup orang Amerika 78 tahun. Ada rongrongan dari dalam dan luar tubuh yang tak teratasi, selain keliru menyikapi hidup.

Secara biologis umur manusia berpotensi diulur sampai 120 tahun (biogenetic maximum life span, Dr Robert Butler). Belajar dari orang berumur panjang di dunia, mengisi gelas umur sampai penuh lebih pada soal seni bagaimana hidup.

Upaya berumur panjang di mata medis merupakan kesempatan lebih dari sekadar desain tubuh. Makin maju kedokteran, makin besar kesempatan mengulur umur. Pak Harto sudah memanfaatkannya. Namun, tanpa sentuhan medis, kita melihat bayi tetangga mati hanya karena diare tidak diatasi. Hampir 99 persen tubuh manusia lahir sehat (Dr John Knowles). Kalau modal itu tidak diinvestasikan, gelas umur 120 tahun gagal terisi penuh. Tak sedikit kasus maut sebelum ajal terjadi. Sebagian besar karena ulah dan pilihan salah manusia.

Andai dulu Pak Harto tidak jadi presiden, masih ndeso, menunya bukan steak, hidup tidak stres, tidak hanyut dalam perilaku tak elok, menurut perkiraan kalangan medis, perubahan itu tidak sampai merongrong organ-organ tubuhnya seperti sekarang.
Gangguan usus diverticulitis Pak Harto dulu bisa jadi akibat pola makan desa berganti menu modern. Rajin main golf, memancing, mengendarai sepeda motor saja ternyata tidak lebih perkasa daripada desakan stres pada jantungnya. Efek jelek letih mengurus negara lebih dari 30 tahun tak kecil merongrong jiwa raga. Beratnya beban jiwa dihibahkan kepada tubuh. Oleh kesibukan berpolitik, tubuh kian dirusak lantaran jiwa berisiko guncang.

Jahatnya Stres
Sebagian besar penyakit orang sekarang, stres pencetusnya. Sejatinya dua pertiga penyakit yang diidap orang sebelum berumur 65 tahun tergolong yang bisa dicegah. Dua puluh lima tahun lalu Pak Harto sebagai presiden boleh jadi kurang penuh melakukan pencegahan sebagai investasi sehat. Boleh jadi gagal pula merawat ginjal. Kendati bibitnya panjang umur, karena rongrongan dari luar dan pilihan hidup yang salah, bakat panjang umur terkalahkan juga.

Kalau saja dulu badan Pak Harto tidak dibiarkan gemuk, tidak sering memilih menu nasi kambing, dan memilih minggir, menepi, karena mampu memutuskan "sudah cukup", perkiraan medisnya mungkin tidak sampai jadi begini. Menurut penglihatan medis, terlambat minggir tergolong faktor risiko mencelakakan kesehatan juga.

Studi Boeing, Lockheed and BellLab (Dr Sing Lin, 2002) mengungkap, mereka yang pensiun umur 55, harapan hidup bisa diulur sampai 86 tahun. Tapi yang baru pensiun 65 tahun, harapan hidupnya hanya 66,8 tahun. Masih tetap bekerja setelah berumur 55 tahun, setiap tahun kehilangan dua tahun umur harapan hidup akibat beban stres.

Dalam Kapsul
Menjadi sehat sampai tua juga perlu investasi. Jika tidak, kesehatan menjadi ongkos. Investasi terbesar diberikan untuk meluruskan pola dan gaya hidup menjadi alami-kodrati, sebagaimana masa kecil yang ditempuh Pak Harto. Kembali ke menu nenek moyang, menjauhi yang serba kebarat-baratan ketika orang Barat sendiri menginsafi kekeliruannya memilih menu dan gaya hidup.

Kalau membayar dokter juga ketika tidak sedang sakit, ongkos berobat menjadi lebih enteng. Tak perlu berobat lagi kalau sudah cerdas mencegah. Keliru memilih menu, tak tertib waktu jeda, dan miskin bergerak badan akar kebanyakan penyakit orang sekarang. Alih-alih berhasil mengisi gelas umur penuh-penuh, malah telanjur sakit-sakitan ketika umur masih di tengah jalan.

Peran medis kecil saja dalam membantu orang agar tetap sehat. Apalagi dalam upaya mengulur umur sepenuh gelasnya. Percuma juga berumur panjang kalau tidak bugar. Sia-sia jika hidup sudah mapan, ada peluang, ada uang, tapi bergantung pada kapsul yang harus diminum. Berumur panjang dan masih sehat menjadi cita-cita semua orang di dunia.

Kendati dibantu teknologi medis tinggi, Pak Harto akhirnya pasrah juga. Bisa jadi lantaran dulu tak melanjutkan investasi pola dan gaya hidup alami nelayan Okinawa yang rata-rata berumur seratusan tahun. Kita bisa banyak belajar dari situ.

*) HANDRAWAN NADESUL, DOKTER, PENGASUH RUBRIK KESEHATAN, PENULIS BUKU




INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kaum Remaja dan Demokrasi
Tantangan Pimpinan KPK Jilid II
Harapan Baru Mengatasi Perubahan Iklim
Pak Hartoku, Pak Hartomu, Pak Harto Kita
Kasus Hukum Soeharto: Selesai Pidananya, Sulit Perdatanya
Stagflasi di Ambang Pintu
Jebakan Kota di Jakarta
Catatan Politik Kelautan dan Perikanan 2008
Kalau Bukan Demokrasi, Apa?
Peluang Dialog Agama
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk116490 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< January,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data