Pasar Obat Generik Menurun

Rabu, 27 Februari 2008 | 18:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Tren pasar obat generik menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2001 pasarnya mencapai 12 persen pada 2007 hanya tinggal 7,23 persen. "Padahal di negara maju trennya justru meningkat," kata Syamsul Arifin, direktur PT Kimia Farma dalam diskusi dengan tema Obat Generik, Obat Murah atau Murahan di kantor Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Jakarta, Rabu (27/2).

Menurut Syamsul, ada beberapa penyebab pemakaian obat generik menurun diantaranya meskipun harganya murah tidak menjamin penjualan dan ketersediaan obat generik. Sekalipun dokter memberikan resep obat generik, seringkali pengguna obat tidak mendapatkannya ketika membeli di apotik. Selain itu, dari segi permintaan resep ditentukan oleh penulis resep bukan pasien. Pemerintah juga kurang aktif dalam mempromosikan obat generik.

Obat generik pun kurang dipercaya oleh dokter maupun masyarakat. Dokter tidak yakin terhadap jaminan kualitas karena tidak ada yang menjaminnya meski persyaratan yang ditetapkan pemerintah ketat. "Jumlah obat generik yang beredar pun ratusan sehingga membingungkan dokter yang menulis resep," ujarnya.

Dari waktu ke waktu jenis obat semakin banyak. Padahal pada tahun 1975 hanya ada dua jenis obat yaitu generik dan bermerek. Sedangkan ada juga obat generik yang berlogo yang diproduksi oleh berbagai macam produsen obat. Untuk itu Syamsul mengusulkan agar pemerintah menetapkan daftar obat esensial yaitu obat yang paling banyak dipakai oleh masyarakat. Jumlah obat esensial itu antara 350 sampai 360 jenis obat.

Pengurus besar IDI Heri Aminuddin mengatakan pada waktu lalu penggunaan obat generik tidak pernah diragukan. "Dulu kami pakai obat-obat generik pasien banyak yang sembuh, tapi sekarang ada kesangsian," katanya.

Ada obat yang ketika diberikan pasien tidak kunjung sembuh, ada juga yang menunjukkan efek samping. Sehingga efektivitas obat dipertanyakan dan terpaksa obat pun diganti.


Aqida Swamurti






Komentar Anda

Kirim