Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pemerintah Minta Obat Generik Dilabelisasi
Selasa, 04 Maret 2008 | 21:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pemerintah meminta labelisasi obat generik dilakukan untuk melindungi masyarakat miskin agar bisa memilih obat.

"Dokter boleh tulis obat, tetapi harus tulis obat generiknya," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam pidato sambutan pelantikan pejabat eselon satu dan dua di Departemen Kesehatan, Selasa (4/3).

Menteri menegaskan bahwa labelisasi adalah hak konsumen. Selama ini masyarakat dirugikan karena tidak dapat membaca resep yang diberikan dokter. Kerugian itu berlanjut, karena pasien tidak mengetahui apakah obat yang telah dibeli dari apotik sesuai atau tidak dengan resep dokter.

Dengan labelisasi. kata Siti, masyarakat bisa memilih obat apakah yang generik atau bukan. Produsen obat pun tidak akan dirugikan dalam hal ini.

Dia menambahkan, saat ini 80 persen apotik tidak menyediakan obat generik. Jika obat generik tidak tersedia, katanya, sebenarnya bisa dilakukan penunjukkan untuk impor, sehingga apotik tidak bisa berkilah lagi dengan mengatakan obat generik tidak tersedia.

Pemerintah daerah pun bisa langsung melakukan pembelian obat generik. Namun, menteri mengingatkan agar pembelian itu dilakukan dengan standar yang terorganisasi. "Jangan sampai seperti beli kucing dalam karung," katanya.

Siti menambahkan, program apotik rakyat belum dapat berjalan karena ada hambatan dari farmasi. Padahal, program itu sangat bagus untuk membantu masyarakat miskin.

Menteri mengungkapkan, apotik tidak mau menjual obat generik karena untungnya hanya sedikit. Ia menegaskan bahwa, meski murah, obat generik juga harus bermutu. Pemerintah tidak mau memberikan insentif kepada produsen obat generik. “Yang harus diberi insentif adalah rakyat.”

Direktur Kimia Farma Syamsul Arifin mengatakan labeliasi memang harus ditegakkan, karena itu merupakan hak masyarakat. "Tetapi problemnya, obat yang sudah beredar tidak dapat ditarik, apalagi belum expired."

Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan juga tidak bisa menarik dari pasaran karena jumlahnya banyak. Tetapi untuk obat yang baru, ujarnya, Kimia Farma sudah melakukan labelisasi.

Menurut Syamsul, yang saat ini diperlukan adalah kampanye, sebab apotik menjual produk mereka berdasarkan kampanye. Ia mengatakan setidaknya terdapat 91 persen obat nongenerik yang dikampanyekan, tetapi obat generik yang dikampanyekan hanya 7 hingga 9 persen.
Aqida Swamurti/ Maria Elga Ratri Ayudi

Dari Arsip Majalah TEMPO
Kembalilah ke Pisang Klutuk  | 08 Desember 1998
Obat Generik Jadi Primadona  | 08 Desember 1998
Mini tanpa Asuransi | 15 November 2004
Pil Pahit Indofarma  | 07 Juli 2003
Cerita Lama versi Baru  | 11 Juni 2001
Obat Baru Kanker Kiblat Baru Senjata Antikanker  | 04 Juni 2001
Obat Jamu Masuk Rumah Sakit  | 14 Mei 2001
Harga Obat Generik Naik 20 Persen  | 14 Mei 2001
Ini Dia Seluk-Beluk Survei  | 05 Maret 2001
Ekspor Jamu ke Malaysia  | 26 Pebruari 2001
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Penggunaan Obat Generik Menurun
Sanksi Tegas Bagi Pegawai Terlibat Jual Beli Obat Bersubsidi
Penggunaan Antibiotik Picu Gangguan Pencernaan
Obat Generik Mulai Langka di Jember
Obat Antibiotik Mahal karena Harga Bahan Baku Tinggi
Obat Murah Mulai Disosialisasikan di Bandung
Menteri Kesehatan Tuding Spekulan Membajak Obar Murah
Indofarma Produksi Obat Murah
Labelisasi Obat Belum Dipatuhi
Sosialisasi Harga Baru Obat Belum Maksimal
> selengkapnya...

Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1331/ Menkes / SK / X / 2002. Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.167 / KAB / B.V I I I / 1972. Tentang Pedagang Eceran Obat

Website

Badan Pengawas Obat dan Makanan
Departemen Kesehatan

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk118581 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Bersaing Jadi Idola Cilik
Massa Partai Bikin Macet Jalan Imam Bonjol
Megawati Tidak Hadir di KPU
Yenny Wahid Protes di Depan Jusuf Kalla
Pengurus Partai Politik Mengambil Nomor Urut di KPU

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data