Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Teror Warnai Diskusi Supersemar
Rabu, 05 Maret 2008 | 18:09 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Suasana tenang itu berubah tegang, saat seorang anggota Front Anti Komunis Indonesia (FAKI), Burhanuddin berbicara lantang, “Ini diskusi, bukan forum tulis menulis,” katanya. Tak hanya itu, dengan nada emosional, dia meneriakkan kata-kata anti komunis.

Teriakan Burhanuddin itu, bermula ketika panitia memutuskan sesi tanya jawab hanya diterima dengan menuliskan pertanyaan pada secarik kertas. Kunto, sang moderatorpun mengumumkannya. Saat Roy Suryo kesulitan membaca pertanyaan (karena tulisan tidak jelas), maka Burhanuddin berteriak lantang : “Saya bisanya bicara, tidak menulis,” katanya.

Teriakan-teriakan itu tentu membuat nyali para peserta bedah buku “Membongkar Supersemar”, di Benteng Vredenburg, Yogyakarta, Rabu (5/3) kaget. Bahkan seorang peserta yang semula tampak asyik menyimak pemaparan para narasumber tampak bersungut-sungut dan nyeletuk: “Wah mbok jangan emosi begitu. Ini kan forum diskusi ilmiah.”

Rupanya, panitia sengaja memutuskan itu karena melihat adanya gelagat kurang baik.
Maklum, sejak seminar dimulai, kasak-kusuk akan terjadinya pembubaran oleh FAKI sudah terendus. Untuk menghindari terjadinya keributan, pihak panitia langsung mengontak aparat Kepolisian Poltabes Yogya.

Melihat situasi yang kurang nyaman, seorang peserta memanggil teman-temannya yang tergabung dalam Banser NU. Komandan Banser Bantul, Khozen mengakui, kehadiran dia dan teman-temannya hanya membantu aparat, menjaga keamanan. “Kami tidak ingin ada ribu-ribut di sini,” kata Khozen.

Bedah buku yang diselenggarakan Kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Yogyakarta ini, menghadirkan narasumber: penulis buku Membongkar Supersemar, Romo Baskara T. Wardaya, SJ; Pakar Telemedia KRMT Roy Surya Natadipraja. Hadir dalam acara itu, para guru sejarah, siswa sekolah, dan para pelaku sejarah. Seorang di antaranya, Soekardjo Wilardjito.

Dalam bedah buku itu, Rama Baskara mengatakan, dirinya tidak akan menyoal keaslian naskah Supersemar. “Saya lebih fokus pada sejarah pra-kondisi sebelum Supersemar itu dikeluarkan, hingga dampak yang muncul, berdasarkan dokumen dari Amerika,” katanya.

Memang, buku itu menguak dokumen yang berkode “Rahasia”, “Konfidensial”, “Distribusi Terbatas”, dari Kedutaan Besar AS di Jakarta, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di Washington, CIA, Gedung Putih, Kantor National Security Agency dan sejumlah pejabat pemerintah di Indonesia. Dari dokumen itu terlihat jelas, mengapa Supersemar lahir, bagaimana peran CIA, militer dan Soeharto, dan bagaimana dampak politiknya bagi Indonesia.

Sementara Roy Suryo lebih memaparkan hasil analisanya terhadap beberapa versi dokumen Supersemar, termasuk rekaman pidato kenegaraan Bung Karno pada Peringatan Hari Ulang Tahu (HUT) ke-21 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agusatus 1966. “Saya sudah bisa katakan, bahwa pidato Bung Karno yang tersimpan di Arsip Nasional itu asli. Saya sudah cocokkan semuanya,” kata Roy.

Karena itu, Roy menyatakan, dokumen Supersemar yang selama ini beredar itu bukan asli. Dokumen yang asli, pidato Bung Karno itu. “Kemungkinan besar dokumen aslinya tidak akan ditemukan lagi karena Semarnya sudah tidak ada,” kata Roy sambil sedikit bercanda.

Roy juga menegaskan, dokumen yang berhasil diperoleh Roy terdiri beberapa versi, mulai dari versi berkop Kepresidenan, hingga naskah Supersemar yang terdiri dua halaman. “Dari beberapa versi itu, ada satu versi yang berkop Angkatan Darat. Saya meyakini, sangat mungkin Supersemar asli itu menggunakan kop Angkatan Darat. Secara logika, dalam situasi seperti itu, tidak mungkin Bung Karno sempat membawa kop surat Kepresidenan,” kata Roy.

Soekardjo Wilardjito dalam kesempatan itu memang tidak hadir sebagai pembicara, tapi duduk sebagai peserta diskusi. Meski demikian, sebagai saksi sejarah Supersemar, dia diberi kesempatan berbicara. Menurutnya, pada 2003 dia sempat didatangi seorang petugas dari Arsip Nasional. Orang itu mengajak dia ke Jakarta, karena katanya, naskah asli Supersemar ditemukan oleh kemenakan Jenderal M. Yusuf di sebuah bank. Namun Soekardjo tidak mau ikut. “Surat seperti itu kan biasanya diserahkan ke Sekretariat Negara, atau disimpan di Arsip Nasional. Memangnya itu deposito, kok disimpan di bank,” katanya disambut tawa peserta diskusi.

Meski sempat terganggu oleh kehadiran FAKI, namun seminar itu ditutup dengan damai. Edi Purwanto Nugroho, Ketua MGMP Sejarah yang juga guru SMU Negeri 5 Yogya menyayangkan tindakan itu. “Zaman sudah berubah kok ya masih ada yang begitu,” katanya. Aparat kepolisian, intel, Banser dan seluruh peserta pulang dengan lega. “Untung ada yang menjaga. Kalau tidak, mereka bisa liar,” ujar seorang guru, sambil beranjak keluar dari ruangan.


LN Idayanie


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk118663 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Jenazah Sophan Sophiaan Tiba Di Rumah Duka
Jenazah Sophan Tiba Di Bandara Soekarno Hatta
DKI Sisir Kawasan Radio Dalam
Rumah Duka Sophan Sophian Dikerumuni Wartawan
Menabrak Pakem Seni Trimatra

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data