Binladin Ingin Beli Pulau di Indonesia
Rabu, 19 Maret 2008 | 00:20 WIB
TEMPO Interaktif, Dubai:Sheik Saleh Binladin menyampaikan minat perusahaannya untuk membeli pulau di Indonesia.
Permintaan pimpinan perusahaan konstruksi Saudi ini kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersandung undang-undang.
"Menurut UU di Indonesia orang asing tak dapat membeli tanah tapi dapat menyewa 70 tahun," kata Presiden dalam jumpa pers usai pertemuan itu di Dubai, Rabu petang (19/3).
Ganjalan lain adalah aturan yang menyatakan pantai sebagai milik publik. "Di Indonesia konsep pantai pribadi tak diperkenankan," kata Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa.
Kendati gagal membeli pulau, pertemuan pimpinan Binladin dan Presiden Yudhoyono tak berbuah hampa. "Binladin akan memberikan kesempatan lebih banyak kepada PT Waskita Karya untuk mengerjakan berbagai proyek," kata Presiden.
Sudah setahun ini Waskita Karya membangun tiga tower buat Binladin senilai sekitar Rp 50 miliar dan melibatkan 360 tenaga kerja Indonesia.
"Binladin menyatakan puas dengan kinerja pekerja kita yang katanya kompeten, disiplin dan tidak membuat masalah. Saya bangga mendengarnya," kata Presiden.
Karena kinerja yang bagus itu, Binladin menawarkan proyek tambahan bagi Waskita Karya. "Kami ditawarkan membangun 16 tower lagi. Tapi yang kami ambil mungkin 6 dahulu dengan nilai sekitar US$ 60 juta," kata Umar TA, Presiden Direktur Waskita Karya.
Ia mengaku tak mau mengambil risiko terlalu tinggi. "Kami masih baru jadi harus hati-hati," kata bos BUMN yang tahun ini merencanakan go public dan memiliki 1.000 karyawan itu.
"Yang jelas kesempatan dibuka lebar bagi kami oleh Binladin, kata Umar.
Presiden Yudhoyono berharap kesempatan itu akan dimanfaatkan dengan baik. "Agar semakin banyak warga kita yang mendapatkan pekerjaan yang baik." bhm (Dubai)





