Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Anggaran Persandian Dipotong Rp 60 Miliar
Selasa, 08 April 2008 | 15:33 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemotongan anggaran persandian pada tahun ini sebesar Rp 60 miliar berpotensi terbukanya rahasia negara di dalam dan luar negeri. Menurut anggota Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Djoko Susilo, pemotongan anggaran itu membahayakan. Dia mencontohkan pemasangan antisadap selama ini yang paling optimal di dalam negeri hanya ada pada lembaga kepresidenan. ”Pemotongan ini tidak tepat,” ujarnya di gedung MPR/DPR, Selasa (8/4).

Pemotongan anggaran berawal dari kebijakan pemerintah mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak dan pangan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah dan DPR sepakat memotong anggaran 10 persen.

Djoko mengatakan, anggaran Lembaga Sandi Negara pada 2008 lebih rendah yakni sebesar Rp 300 miliar dibanding anggaran pada 2007 senilai Rp 900 miliar. Menurut dia, kebijakan Menteri Keuangan memotong anggaran seluruh kementerian/lembaga sebesar 10 persen dinilai tidak tepat.

Menurut Djoko, seluruh pengadaan peralatan persandian kementerian/lembaga di pusat dan daerah merupakan tanggung jawab Lembaga Sandi Negara. Selain kantor, kata dia, Lembaga Sandi Negara bertanggung jawab untuk melindungi penyadapan telepon selular pejabat negara.

Bahkan, kata Djoko, lebih dari separuh anggaran Lembaga Sandi Negara dialokasikan untuk pengadaan peralatan persandian. Bahkan, Lembaga Sandi Negara berencana memasang alat antisadap di pesawat kepresidenan. ”Anggaran belanja barang di Lembaga Sandi Negara justru untuk kebutuhan kementerian/lembaga lain,” katanya.

Saat ini, tiga dari 24 kantor konsulat jenderal Indonesia di luar negeri sudah dilengkapi alat sandi. Yaitu, kantor Konsulat Jenderal RI di Hong Kong, Jeddah, dan Dafauk (Filipina). Selain itu, kantor Kedutaan Besar Indonesia di luar negeri yang dilengkapi alat sandi baru sekitar 50 persen. Dia mengatakan seluruh kantor Konsulat Jenderal RI di Amerika Serikat belum dilengkapi alat sandi. Padahal, teknologi persandian Amerika Serikat termasuk yang tercanggih saat ini.

Dia menilai anggaran ideal untuk Lembaga Sandi Negara tahun ini mencapai Rp 1 triliun. Alasannya, kebutuhan persandian kementerian/lembaga di dalam dan luar negeri harus dipenuhi Lembaga Sandi Negara. Selama ini, ujarnya, alat sandi berteknologi tinggi masih harus diimpor dari Jenewa, Swiss, dan Italia. Rencananya, DPR akan menyetujui APBN Perubahan 2008 dalam rapat paripurna pada Kamis (10/4) mendatang.

Kurniasih Budi


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk120752 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

IPB Kembangkan Sentra Benih Kedelai di Luar Jawa
Diduga Perampok, Mobil Fortuner di Hancurkan Massa
Empat Calon DPD Sumatera Selatan Terancam Gugur
Verifikasi Faktual DPD Lampung Terancam Molor
Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data