|
Seruan Hemat Presiden Dikritisi Tokoh Lintas Agama
Jum'at, 02 Mei 2008 | 23:36 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Para tokoh dari beberapa lembaga keagamaan menanggapi seruan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar melakukan penghematan energi. "Kalau memang mau hemat, tidak perlu bawa 35 menteri ketika panen raya," Sekretaris Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta Gustaf Dupe.
Gustaf bersama Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Majelis Umat Kristiani Indonesia Bonar Simangunsong, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia I Made Gde Erata, Biksu Tadisa Paramita Ketua Dewa Sangha Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), Ketua Majelis Ulama Indonesia KH. Amidhan, dan Haksu Djaengrarau dari Majelis Agama Konghucu Indonesia (Matakin). Mereka menyatakan keprihatinannya terhadap krisis pangan dalam temu wartawan di Centre for Dialogue and Coorperation among Civilization, Jakarta , Jumat (2/5).
Menurut Gustaf, rakyat saat ini sudah tidak bisa dipaksa hemat lagi. "Kami sudah mengencangkan ikat pinggang".
Din Syamsuddin mempertanyakan tanggung jawab pemerintah mengatasi krisis pangan. "Tidak perlu mekanisme bertahan secara ad hoc," ujarnya. "Apakah pemerintah tidak punya ketahanan dan strategi pangan?"
Penghematan, menurut Bonar, harus dimulai dari atas. "Mulai dari penggunaan mobil dinas, perjalanan dinas". Kesulitan Indonesia saat ini merupakan bagian dari kesulitan global.
Amidhan menyesalkan elit politik yang tidak menunjukkan teladan. "Demonstration effect hidup sederhana tidak ada dari atas."
Peran para pemimpin agama, menurut Haksu, adalah mendorong dan memberi pemikiran. "Umat Indonesia masih mengakui apa kata pemimpin agamanya." Dianing Sari
INDEKS BERITA LAINNYA :
|