Yudhoyono Menahan Diri Tidak Beriklan

Jum'at, 30 Mei 2008 | 22:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Juru bicara Andi Malarangeng menyatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum perlu beriklan terkait pencalonannya kembali sebagai calon presiden mendatang.

"Incumbent tidak perlu beriklan. Nanti saja pada waktunya," katanya dalam diskusi Dialektika Demokrasi di gedung MPR/DPR, Jumat (30/5).

Beberapa tokoh politik mulai beriklan terkait rencana pencalonan diri dalam pemilu presiden 2009. Ketua Umum Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir memasang iklan dengan motto Hidup adalah Perjuangan di berbagai media massa cetak dan elektronik serta media iklan lainnya. Sedangkan, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto beriklan dengan mengkritik kebijakan Presiden Yudhoyono.

Andi menyadari incumbent selalu dijadikan sasaran serang para kompetitor pemilu presiden. Hingga kini, ujarnya, incumbent harus menjalankan tugas sebagai presiden seoptimal mungkin hingga akhir masa jabatan.

"Penantangnya ada yang menyerang, tebar pesona dengan beriklan. Kadang-kadang Presiden berkomentar, apa ini nggak kegasikan, apa tidak terlalu awal," katanya.

Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali mengatakan iklan politik sangat penting bagi penantang Yudhoyono. Terutama, ujarnya, bagi calon yang masih perlu meningkatkan popularitas.

Sayangnya, dia melanjutkan, hingga kini iklan yang mengangkat isu tertentu masih minim. Umumnya, iklan hanya mengangkat pencitraan tokoh yang akan menjadi calon presiden.

Menurut dia, iklan politik pemilu 2009 harus lebih baik dibanding sebelumnya. Misalnya, kandidat melaporkan ke publik jumlah uang yang dibelanjakan selama kampanye dan asal uang tersebut. "Lebih menarik jika mengiklankan how elegance can you go. Itu akan jadi sebuah tradisi yang sangat baik," ujarnya.

Dia mengatakan serangan dan pertahanan dalam kampanye politik adalah kemutlakan. Terutama, dia menegaskan, terkait pemeriksaan dana kampanye masing-masing calon presiden. Namun, kampanye dengan menyerang kelemahan kompetitor masih belum terjadi di Indonesia.

Iklan dikategorikan sebagai kampanye negatif, ujarnya, jika memaparkan data dan fakta yang tidak akurat. "Attacking tidak harus negatif. Yang penting mudah diingat dan menggerakkan orang untuk datang ke TPS," katanya.

Dia menilai Wiranto merupakan pelopor attacking campaign di Indonesia. Alasannya, Wiranto menyoroti pernyataan Presiden Yudhoyono terkait kenaikan harga minyak.

Namun, dia melanjutkan, iklan politik itu bukan jaminan bagi Wiranto memenangkan pemilu presiden 2009. "Belum tentu blunder yang terjadi di istana saat ini menguntungkan Pak Wiranto. Karena perjalanan masih panjang di depan," ujarnya. Kurniasih Budi

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :