Masyarakat Tolak Harga BBM Naik
Minggu, 29 Juni 2008 | 13:50 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Masyarakat cenderung menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak. Survei Indo Barometer menunjukkan, sebanyak 35,3 persen responden tak setuju dan tak menerima kebijakan pemerintah.
"Hanya 8,1 persen responden setuju dan menerima kebijakan itu," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M. Qodari, dalam jumpa pers di Jakarta, Ahad (29/6).
Sebanyak 45,5 persen responden menyatakan tak setuju kenaikan harga BBM. Meski demikian, mereka mengaku bisa menerima kebijakan pemerintah itu. Sedangkan responden yang setuju tapi tak menerima kebijakan pemerintah itu sebesar 9,8 persen.
Survei ini dilakukan pada 5-16 Juni 2008 di 33 provinsi. Jumlah responden sebanyak 1.200 orang. Mereka dipilih dengan metode multistage random sampling untuk mendapat responden yang mewakili seluruh populasi publik dewasa atau berusia lebih dari 17 tahun.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka dan menggunakan kuesioner. Tingkat kepercayaan survei mencapai 95 persen dengan margin kesalahan sekitar 3 persen.
Menurut Qodari, survei memperlihatkan 59,9 persen responden menolak alasan pemerintah menaikkan harga BBM untuk mencegah penyelundupan. Hanya 25,5 persen responden setuju, dan 14,9 persen mengaku tak tahu. Sebanyak 55,5 persen responden juga menolak alasan naiknya harga minyak dunia sebagai penyebab kenaikan harga BBM. Sebanyk 30,6 persen tidak puas.
Untuk alasan mengurangi subsidi, 56,1 persen responden tak setuju, dan 29,5 persen setuju. Sedangkan untuk alasan tak boros BBM, 65,1 persen responden tak setuju. Hanya 24,6 persen setuju. Sebanyak 42,6 persen responden setuju alasan pemerintah menaikkan harga BBM untuk membantu rakyat miskin. Sementara, 46,9 persen tak setuju.
PRAMONO/
Topik :






Komentar Anda :