close

Diduga Terkait Teroris, Rumah di Kompleks Demang Azhar Digeledah

Rabu, 02 Juli 2008 | 00:41 WIB

TEMPO Interaktif, Palembang:Sejumlah orang yang diduga dari Detasemen Khusus 88 Antiteror melakukan pengerebekan dan pengeledahan di rumah Fauzi, Ketua Forum Anti-Gerakan Pemurtadan (Fakta), yang berlokasi di Kompleks Demang Azhar, Palembang, Sumatera Selatan.

Aparat mengambil 2 buah telepon genggam dan menghancurkan serta menembak 3 pintu rumah. Penggeledahan itu diduga terkait dengan penangkapan dua tersangka teroris di Jalan Dwikora, Palembang.

Fauzi mengatakan sekitar pukul 16.30 WIB rumahnya didatangi beberapa orang. Kebetulan yang di rumah saat itu hanya adiknya seorang, yaitu Mei. Para petugas mendobrak tiga pintu, yaitu pintu samping dan dua pintu kamar.

“Mereka bertanya di mana kamar Fauzi,” kata Mei,yang masih terlihat trauma.

Sekitar 5 orang naik ke lantai atas dan menembak pintu kamar karena pintu terkunci. “Saya tanya, ada apa ini?” kata Mei. "Mereka diam saja."

Setelah itu mereka mengambil handphone milik Mei, merek Nokia tipe N70, dan handphone anak Fauzi, Dian. Menurut Mei, mereka sempat mengatakan ada bom.

“Saya baru pulang dari tempat usaha di Tanjung Api-api, jadi tidak tahu persis kejadiannya bagaimana,” kata Fauzi.

Fauzi mengatakan bahwa rumah yang ada di jalan Dwikora (tempat pengerebekan oleh Densus 88) itu adalah milik orang tuannya, Bustam Alamsyah, yang sudah almarhum. Sejak Februari lalu rumah tersebut kosong.

Sebagai Ketua Fakta. katanya, dia mempunyai banyak jaringan di bawahnya. Salah satunya adalah Yudhi, yang dipercaya untuk menunggu rumah tersebut.

Di rumah inilah Densus 88 menangkap orang yang di duga teoris. “Saya bingung, di TV katanya yang ditangkap Fauzi dan Wahyu,” kata Fauzi.

"Kalau Fauzi ya saya. Wahyu saya tidak kenal. Yang diserahi rumah bernama Yudhi. Kami kenal di Mesjid Talang Jawa di daerah Jalan Pagaralam," ia menjelaskan.

Setelah bercerita berapi-api, tiba-tiba seorang tetangga Fauzi dari kepolisaan bernama Ardianto meminta izin kepada wartawan untuk bicara empat mata.

Setelah pembicaraan itu, Fauzi langsung tertutup terhadap wartawan dan berkemas hendak pergi. Ia lalu meminta izin kepada istri, anak, dan adik iparnya untuk mendatangi markas Polda.

“Insyaallah saya tidak salah. Jangan nangis. Ingat Allah, jangan lupa solat,” Fauzi berpesan saat memeluk anak perempuannya yang menangis karena Fauzi mau ke Polda.

“Saya tidak tahu kenapa bapak tiba-tiba mau ke Polda,” kata Istri Fauzi sambil terisak-isak. Fauzi di dampingi tetangga lainnya bernama Heru, yang berstatus advokat, untuk memberikan klarifikasi ke Polda Sumatera Selatan.

Sementara itu, kedatangan sejumlah wartawan ke Kompleks Demang Azhar mendapat perhatian warga sekitar itu. Mereka juga sudah melihat di televisi dan mendengar radio soal penangkapan tersangka teroris di Palembang .

Mereka juga mengatakan kalau Fauzi tetangga yang baik dan ramah. Di musola Al-Kauzar di depan rumah Fauzi sering dijadikan tempat solat berjemaah.

“Biasanya dia yang jadi imam,” kata salah seorang tetangga. Mereka mengaku tidak percaya jika Fauzi termasuk jaringan teroris. Arif Ardiansyah

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan