Insinyur Indonesia Tak Peka pada Lingkungan

Kamis, 31 Agustus 2006 | 15:18 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Surabaya Dr. Daniel Mohammad Rosyid berpendapat bahwa para insinyur Indonesia tak peka terhadap tata ruang dan lingkungan sosial. Mereka bekerja hanya sebagai tukang yang mendapat bayaran.

Kritikan Daniel diucapkan dalam Seminar Nasional Lustrum IV Fakultas Teknik Universitas Surabaya, Kamis siang.
"Semburan lumpur panas akibat blow out di Porong
contoh paling aktual kecerobohan para insinyur. Di sana adalah lingkungan yang padat penduduk dan berada di dekat infrastruktur utama Jawa Timur, yakni jalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya, dan rel kereta api," katanya.

Begitu pula dengan gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di sini menunjukkan betapa banyaknya bangunan yang dirancang dan dibangun tanpa sadar gempa. Mereka meyalahi pakem bagaimana membangun bangunan yang baik. "Bayangkan,
berapa nilai investasi yang mubazir akibat ambruk oleh
gempa," ungkapnya.

Daniel mengingatkan, salah satu peran insinyur
adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat agar
lebih baik. Caranya memberi kontribusi pembangunan infrastruktur yang baik pula.

Insinyur, katanya, paling bertanggung jawab dalam menciptakan kekayaan masyarakat. Caranya, melalui upaya transformasi sumber daya alam menjadi sumber ekonomi dengan rekayasa teknologi yang memiliki nilai tambah.

Sunudyantoro

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :