Djoko “Blue Energy” Belum Kembalikan Uang ke UMY

Minggu, 15 Juni 2008 | 20:36 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Kepala Divisi Humas Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Twediana Budi Hapsari, membantah pemberitaan bahwa Djoko “Blue Energy” Suprapto pernah megembalikan uang sebesar 1,3 miliar rupiah kepada universitas.

“Setelah saya tanyakan ke Pak Rektor (Khoiruddin Bashori), ia menjawab tim Djoko belum mengembalikan,” kata Twediana, Ahad (15/6).

Adapun Purwanto, yang pernah menjadi konsultan ahli proyek “Banyugeni” dan sebagai tim inti Djoko, hingga saat ini sulit dihubungi. Menurut Twediana, Purwanto sudah tidak berada di Yogyakarta sejak tidak menjadi konsultan ahli UMY. “Kita juga sedang mencari alamatnya. Katanya di daerah Pakis, Sukoharjo, Jawa Tengah,” tambah dia

Sementara itu, Bupati Bantul Idham Samawi merasa kecewa terhadap kasus yang menimpa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam proyek yang diharapkan menjadi terobosan energi alternatif itu.

“Saya kecewa, institusi seperti UMY bisa tertipu seperti itu. Lagi pula nama saya kan juga terbawa-bawa,” kata Idham Samawi, yang menghubungi Tempo melalui telepon seluler, Ahad (15/6).

Saat peluncuran “Banyugeni”, Rabu, 13 Februari lalu, Idham Samawi turut menyalakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah produk “banyugeni”, serta menyalakan traktor. Bersama Rektor UMY, Khoiruddin Bashori, sang bupati juga menaiki sepeda motor berbahan bakar setara bensin.

“Waktu itu saya hadir karena menghormati Pak Rektor. Kalau proyek itu terealisasi, maka akan menjadi revolusi di bidang energi,” kata dia.

Menurut Idham, Khoiruddin juga mengajukan permohonan kepadanya untuk menyediakan lahan guna memproduksi bahan bakar secara komersial. “Bahkan kami sudah menyediakan dana 500 juta rupiah,” kata Idham.

Namun, lahan yang sudah disediakan pemerintah Kabupaten Bantul belum dipakai dan dana sebesar itu belum dicairkan. “Saya sudah memerintahkan bagian Administrasi Pembangunan Kabupaten untuk tidak mencairkan dana, karena saya belum melihat proses pada penelitian tersebut,” kata dia. Lagipula, pihak Pemerintah Bantul belum pernah diajak meninjau lokasi dan proses penelitian tersebut. Muh. Syaifullah

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :