Kasus Kehamilan Tak Diinginkan Ancam Remaja Bali
Senin, 16 Februari 2009 | 15:04 WIB
TEMPO Interaktif, Denpasar: Kasus kehamilan yang tak diinginkan mengancam remaja di Bali. Dalam empat bulan beroperasi, klinik kesehatan remaja Kisara telah menangani konseling 177 kasus itu.
Menurut dr Wayan Citra Wulan Sucipta Putri, fenomena itu ibarat gunung es. "Faktanya bisa jauh lebih besar," ujar dokter jaga di klinik Kisara itu pada Workshop Advokasi Kehamilan Tak Diinginkan di Denpasar, Senin (16/2).
Data pada bulan September-Desember 2008 itu menunjukkan 156 kasus atau 88 persen terjadi pada usia 10-24 tahun, sisanya sejumlah 21 kasus (11,9 persen) terjadi pada remaja putri berusia di atas 21 tahun.
Citra mengatakan kehamilan itu sangat berdampak pada kehidupan remaja karena menimbulkan diskriminasi sosial, terputusnya pendidikan, dan berbagai masalah kesehatan. Namun yang paling nyata adalah terjadinya aborsi di kalangan mereka. "Semua aborsi adalah illegal dan hanya sebagian kecil yang aman," ujarnya.
Dari konseling terhadap 177 remaja yang mengalami kehamilan tak diinginkan, 144 di antaranya telah mengupayakan aborsi, 47 orang melakukan aborsi secara medis, 72 nonmedis, dan 24 cara kombinasi. Sedang yang tidak melakukan upaya aborsi hanya 33 orang saja.
Setelah menjalani konseling, tujuh remaja melakukan aborsi aman, 21 menikah, dua remaja tidak aborsi dan tidak menikah dua. Sementara itu, 118 remaja menghilang dan tak bisa dihubungi.
Citra mengatakan pencegahan kehamilan tak diinginkan harus dilakukan secara kompehensif, mulai dari pemberian informasi yang tepat mengenai masalah seks dan kesehatan reproduksi, serta sosialisasi pencegahannya.
Remaja yang telanjur mengalami kehamilan, membutuhkan jaminan untuk tidak mengalami diskriminasi serta layanan aborsi aman. "Bagaimana pun mereka berhak untuk tetap memperoleh akses pendidikan dan kesehatan serta melanjutkan hidupnya," ujarnya.
Pakar Kesehatan Reproduksi dr Mangku Karmaya menyatakan klinik aborsi aman bukan hanya dibutuhkan kalangan remaja. Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan tingkat kehamilan tak diinginkan di Bali mencapai 18.582 kasus.
Dari jumlah itu 11.275 diakibatkan oleh kasus gagal program Keluarga Berencana (KB), sedangkan sisanya sebanyak 7.287 akibat masalah lain. Dari jumlah itu, data aborsi di Bali mencapai 5.574 kasus. "Karena tidak aman, tingkat kematian ibu menjadi sangat tinggi," ujarnya.
ROFIQI HASAN





Komentar Anda [2] :