Dua Pelacur Idap HIV/AIDS Diburu

Rabu, 22 April 2009 | 15:37 WIB

TEMPO Interaktif, Kediri: Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri tengah memburu dua pelacur yang terinfeksi HIV/AIDS. Kedua pelacur itu beroperasi di tempat umum dan berisiko menularkan virus HIV/AIDS secara bebas.

Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Langsung Kediri Nur Munawaroh mengatakan pelacakan kedua pelacur itu dilakukan setelah menerima laporan petugas kesehatan di Kecamatan Pare tentang catatan medis mereka. "Mereka diketahui terinfeksi saat melakukan pemeriksaan rutin enam bulanan," kata Nur Munawaroh kepada Tempo, Rabu (22/4).

Celakanya, kedua pelacur itu tidak berdomisili di lokalisasi, seperti ratusan pelacur lainnya. Keduanya justru berpindah-pindah tempat dalam menjerat para lelaki hidung belang, di antaranya di alun-alun Kecamatan Pare dan pusat perbelanjaan Kabupaten Kediri. Karena itu Dinas Kesehatan hanya bisa meminta masyarakat untuk menghindari menggunakan jasa mereka guna meminimalisir penularan HIV/AIDS.

Penyebaran virus HIV/AIDS, menurut Nur, berlangsung sangat cepat. Dalam waktu kurang satu bulan, sebanyak lima warga Kediri telah terinfeksi penyakit mematikan tersebut. Hingga saat ini jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kediri telah mencapai 109 orang. Jumlah ini meningkat pesat dari akhir tahun 2008 yang hanya 94 orang dengan 22 di antaranya meninggal dunia.

Dari jumlah tersebut 67 penderita dinyatakan mengidap HIV, 37 orang mengidap AIDS, dan 13 orang mengalami ARV. Sedangkan 18 penderita lainnya tidak bisa terpantau karena berpindah tempat. Para penderita ini didominasi kaum perempuan yang berjumlah 71 orang, laki-laki 26 orang, dan waria 7 orang.

Pertumbuhan penderita HIV/AIDS dipicu banyaknya kawasan lokalisasi di Kabupaten Kediri. Dengan tarif pelayanan yang cukup murah, yakni Rp 20 ribu, masyarakat kelas bawah sudah bisa menikmati layanan biologis plus penyakit mematikan. "Kami terus berlomba melakukan pencegahan dengan tingkat penularan yang sangat cepat," kata Nur Munawaroh.

Anggota Komisi Kesejahteraan Sosial DPRD Kabupaten Kediri Iskak mengatakan fenomena tersebut merupakan cermin dari rendahnya kehidupan ekonomi masyarakat. Banyaknya lokalisasi dan pelacur ini akibat kurangnya lapangan pekerjaan yang disediakan pemerintah.

HARI TRI WASONO

 

  • Share on Facebook
  • Send
  • Print
Topik :

Komentar

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan