Mahasiswa Asal Padang di Yogya Khawatir Kiriman Uang Macet
Kamis, 01 Oktober 2009 | 12:50 WIB
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Sejumlah mahasiswa asal Padang, Pariaman, dan daerah lain di Sumatera Barat yang melanjutkan studi di Yogyakarta mengaku resah dengan kondisi keluarga mereka yang terkena bencana gempa berkekuatan 7,6 skala Richter, Rabu, (30/9). Selain karena akses komunikasi terganggu, mereka mengaku belum mengetahui kondisi keluarga besar mereka, apakah selamat dari bencana.
Ini pula yang menyebabkan para mahasiswa khawatir pengiriman uang untuk biaya mereka hidup di Yogyakarta ikut-ikutan terganggu. “Pengiriman uang pasti terhambat karena listrik mati, akses komunikasi terhambat,” kata Anggun Gunawan, mahasiswa Universitas Gadjah Mada asal Solok, Sumatera Barat, yang tinggal di Asrama Merapi Singgalang, Tegalrejo, Yogyakarta, kepada Tempo, Kamis, (1/10).
Anggun mengaku orang tuanya selamat. Namun dia belum mengetahui kerabat mereka yang sebagian besar tinggal di Pariaman.
Sebagai mahasiswa yang mengandalkan pengiriman uang dari orang tua mereka, Anggun mengaku dirinya bersama rekannya terutama dari Padang dan Pariaman, ikut cemas mengingat saat ini adalah awal bulan, waktunya mereka menerima uang kiriman. “Ini tanggal 1, waktunya kami menerima uang kiriman,” kata Anggun.
Memang, kata Anggun, Solok, tempat tinggal orangtuanya, tak terlalu terkena dampak gempa. Namun dari informasi ayahnya yang mengontak Anggun kemarin, akses pengiriman bank terganggu. “Ayah kemarin memberi kabar belum bisa karena bank terganggu,” kata Anggun yang mengaku menerima pengiriman uang Rp 800.000 per bulan. Dia berharap akses pengiriman tak terganggu, mengingat kiriman uangnya telah habis.
Di tempat yang sama koordinator asrama mahasiswa Merapi Singgalang, Anton Daswandi, mahasiswa UGM, asal Batu Sangkar, Tanah Datar, Sumatera Barat, mengaku ada sekitar 2000-an mahasiswa asal Sumatera Barat yang tersebar di beberapa kampus di Yogyakarta untuk melanjutkan studi.
Di asrama Merapi sendiri, hanya ada 32 mahasiswa yang asalnya beragam, mulai dari Tanah Datar, Solok, Padang, Pariaman.
Anton mengakui rekan-rekannya asal Padang dan Pariaman, kota terparah terkena bencana gempa merasa khawatir pengiriman uang akan terganggu. ‘Jangankan mengirim uang, menghubungi keluarga saja mereka masih kesulitan hingga saat ini,” kata Anton. Anton mengaku belum mengetahui solusi untuk rekan-rekan mereka yang pengiriman uangnya terganggu akibat bencana ini.
Gempa berkekuatan 7,6 skala Richter menggoyang Sumatera Barat pada pukul 17.16 kemarin. Getaran gempa terasa sampai ke Malaysia dan Singapura. Sampai pukul Rabu pukul 24.00, korban tewas mencapai 75 orang.
BERNADA RURIT





Komentar Anda :