close

Taman Hutan Rakyat R Soerjo Terbakar

Jum'at, 06 November 2009 | 17:17 WIB

TEMPO Interaktif, Malang - Taman Hutan Rakyat (Tahura) Raden Soerjo di kawasan lereng Gunung Semeru terbakar. Kebakaran di kawasan hutan lindung ini terjadi sejak tiga hari lalu. Pemadaman api dilakukan secara manual bersama antara petugas jagawana dengan masyarakat di sekitar hutan. "Penyebab kebakaran diperkirakan karena panas yang berkepanjangan. Serta petani yang membakar rumput untuk membuka ladang baru," kata kepala Balai Tahura R Soerjo, Maryono, Jumat (6/11).

Titik api pertama kali muncul di Desa Giripurno, petugas kesulitan memadamkan api karena angin yang kencang. Apalagi, kendala terbesar pemadaman api saat malam. Hingga kini, petugas  bersama masyarakat setempat bekerjasama memadamkan api dengan peralatan sederhana. Diantaranya menggunakan pemukul ranting dan dahan serta dedaunan untuk memadamkan api.

Selama 2008 total luas hutan yang terbakar mencapai 190 hektare (Ha). Hutan yang terbakar itu berada di lereng Gunung Arjuno yang masuk daerah Kabupaten Malang, Pasuruan, dan Mojokerto. Untuk mencegah kebakaran, disiagakan sebanyak 70 relawan dari 43 desa yang berbatasan langsung dengan hutan. Para relawan bersiaga selama musim kemarau. Selain itu, sekitar 400 petugas Tahura R Soerjo juga terus berjaga untuk mencegah kebakaran.

Peranan relawan Tahura ini efektif, sejak dua tahun terakhir luas hutan yang terbakar terus menurun. Tahun 2006 luas hutan yang terbakar seluas 4300 Ha, sedangkan tahun 2007 turun menjadi 400 Ha. Luas hutan Tahura R Soerjo sekitar 27 ribu Ha, yang berada di lereng Gunung Arjuno yang terletak di daerah Pasuruan, Malang, Batu, Mojokerto dan Jombang. Tumbuh subur di hutan lindung ini berbagai jenis vegetasi rimba dan menjadi habitat satwa dilindungi seperti rusa, harimau dan satwa yang lainnya.

Terbakarnya Tahura R Soerjo juga menjalar di kawasan hutan Kawasan Pemangku Hutan (KPH) Perhutani Malang di sekitar blok 110 Desa Sumberawan Kecamatan Singosari. Luas hutan yang terbakar sekitar 1 Ha, karena kesiagapan petugas jagawana. Tak banyak vegetasi yang terbakar, sehingga kerugian yang diderita tak terlalu banyak. "Petugas jagawana disiagakan selama musim kemarau ini," kata Administratur Perhutani KPH Malang, Nanang Suwandi.

Kebakaran, katanya, rawan terjadi di enam titik daerah di kawasan gunung Kawi. Kawasan rawan kebakaran, terutama daerah wisata dan lokasi pendakian.
Daerah rawan kebaran tersebut tersebar di delapan Resor Pemangku Hutan (RPH) Malang. Pekan kemarin, hutan pinus seluas 22 hektare di daerah gunung Banyak dan gunung Panderman Kota Batu terbakar. Kebakaran diduga akibat kelalaian pengunjung membuang puntung rokok atau api unggun pendaki. Mereka kerap lalai meninggalkan puntung rokok dan api unggu dalam kondisi menyala.

Dahan dan rumput yang mengering, memicu api membesar dan menjalar luas. Tiupan angin mengakibatkan api merembet ke area hutan yang lebih luas. Dengan peralatan seadanya, petugas jagawana dan masyarakat setempat mematikan api. Untuk mencegah kebakaran, petugas memasang papan pengumuman agar mematikan puntung rokok dan api unggun di area wisata dan tempat peristirahatan pendaki di kawasan Perum Perhutani.

Selain itu, petugas jagawana juga berpatroli di kawasan hutan yang rawan kebakaran. Mereka bertugas memantau kondisi hutan dan aktifitas masyarakat di daerah sekitar hutan untuk mencegah kebakaran hutan. Total, hutan Perum Perhutani di Malang mencapai 89 ribu hektare dengan jenis vegetasi berupa pinus dan jati.

EKO WIDIANTO

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan