Wapres Minta Pendidik Beri Contoh Budi Pekerti
TEMPO Interaktif, Jakarta - Wakil Presiden Boediono meminta guru dan pendidik di sekolah memberikan contoh konkrit dalam tindakan budi pekerti. "Pelajaran budi pekerti itu akan susah diterjemahkan dalam soal-soal ujian, sehingga harus dituangkan dalam perilaku," kata Staf Khusus Wakil Presiden, Yopie Hidayat menirukan Boediono seusai pertemuan Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) di Kantor Wakil Presiden, hari ini.
Yopie menjelaskan, wakil presiden ikut memikirkan cara pembelajaran pendidikan budi pekerti. "Beliau (Boediono) rasakan betul kalau tidak dilaksanakan dengan baik, ada yang kurang dengan pendidikan," katanya. Boediono, kata Yopie, menyampaikan bahwa pendidikan budi pekerti sangat penting agar generasi muda memahami secara benar teloransi beragama, menghormati perbedaan dan kecintaan terhadap negara ini. "Itu sangat <I>urgent</i>," ujarnya.
Sekretaris Jenderal Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) Johanes Hariyanto mengatakan perilaku kekerasan terhadap agama sering terjadi. Untuk itu ICRP, mengusulkan perlunya pendidikan berbasis budi bekerti. "Bukan lagi berbasis keagamaan," katanya.
Hariyanto menyampaikan hasil konferensi nasional lintas agama pada 5-6 Oktober 2009 kepada wapres Boediono. Antara lain, meminta pemerintah memberikan kebebasan beragama, negara dinyatakan telah gagal melindungi dan memenuhi hak kebebasan beragama, negara juga dinilai telah mengingkari mandat konstitusi dalam melindungi hak asasi manusia dalam kekerasan beragama.
"Presiden dan Wakil Presiden harus melakukan dan meninjau ulang seluruh regulasi yang menghambat pemenuhan kebebasan beragama," katanya.
EKO ARI WIBOWO

