|
Ritual Ciuman Massal Kembali Digelar di Denpasar
Selasa, 20 Maret 2007 | 16:53 WIB
TEMPO Interaktif, Denpasar:
Omed-omedan atau ritual ciuman massal kembali digelar warga Banjar Kaja Sesetan, Denpasar, Selasa sore ini. Tradisi itu merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu di Bali.
Acara diawali dengan persembahyangan bersama. Setelah itu, sekaha teruna-teruni (kelompok muda-mudi) dibagi dalam dua kelompok.
Sekaha teruna (laki-laki) berdiri di sisi utara dan anggota sekaha teruni (perempuan) berada di sisi selatan. Setiap kelompok terdiri dari 30 remaja. Keduanya terpisah dalam jarak sekitar 100 meter.
Aba-aba diberikan oleh beberapa petugas adat yang ditunjuk mengatur acara. Dia meniup peluit sambil menyiramkan air ke masing-masing kelompok. Sejuruh kemudian kedua kelompok saling berlari ke arah lawannya.
Setiap perserta mendorong sesamanya yang diberi kesempatan untuk saling berciuman kemudian ditarik secepat mungkin. Setelah itu, giliran peserta berikutnya melakoni hal yang sama.
Konon, acara ini warisan leluhur sejak 1900-an dan hanya bisa ditemukan di Banjar Sesetan. Warga meyakini, bila acara ini tak diselenggarakan dalam satu tahun mendatang berkah Sang Dewata sulit diharapkan dan berbagai peristiwa buruk bakal datang.
"Pada 1970 tak ada pesta, tiba-tiba di pelataran Pura berlangsung perkelahian dua ekor babi hingga berdarah-darah, lalu menghilang begitu saja," kata Wayan Sunarya, petugas adat Banjar Kaja.
Peristiwa itu dianggap sebagai pertanda buruk bagi semua warga Banjar. Berbagai cerita turun-temurun turut mengiringinya. Salah satunya, kata Sunarya, kisah kesembuhan seorang raja dari Puri Oka bernama A.A. Made Raka yang sakit.
Setelah dia menyaksikan omed-omedan, langsung sembuh. Padahal, niat Made Raka datang ke arena omed-omedan hendak melarangnya dengan alasan menjadi biang keributan.
Rofiqi Hasan
INDEKS BERITA LAINNYA :
|