|
Gubernur Bali Merasa Kecolongan Soal Kasus Flu Burung
Senin, 13 Agustus 2007 | 15:26 WIB
TEMPO Interaktif, Denpasar: Gubernur Bali I Dewa Made Beratha prihatin dengan meninggalnya satu pasien suspect flu burung di RSUP Sanglah Denpasar. Dia merasa kecolongan dalam menjaga wilayah Pulau Dewata dari penyebaran virus itu. ”Padahal sebelumnya kami selalu mendapat pujian sebagai daerah yang paling baik menangani kasus ini,” kata Made Beratha, Senin (13/8), usai mengikuti sidang paripurna di DPRD Bali.
Pemerintah Bali saat ini sudah mengambil langkah cepat dengan memeriksa kesehatan warga yang berdomisili sekitar radius 1 km dari rumah korban meninggal. Selain itu semua jenis unggas di sana juga harus dimusnahkan. ”Soal ganti rugi belum dipikirkan. Yang penting masyarakat sehat dan tenang dulu,” katanya.
Menurut Beratha, muncul kasus kematian warga ini akibat ada kasus kematian unggas yang tidak dilaporkan kepada petugas. Karena tidak dilaporkan, pemerintah tidak bisa segera mendeteksi.
Mengenai kemungkinan adanya unggas bermasalah yang masuk ke Bali setelah pencabutan Perda No 1 tahun 2003 tentang lalu lintas ternak, gubernur menampik. Menurut dia, pencabutan perda hanya berpengaruh terhadap pemungutan retribusi ternak. Sedangkan untuk pengawasan terhadap ternak yang masuk ke Bali tetap menerapkan standar yang ketat.
Ketua Komisi II DPRD Bali Usdek Maharipa curiga masih ada hewan bermasalah masuk ke Bali melalui jalur selundupan. ”Ini perlu diselidiki karena kalau pencegahan di Bali sudah sangat intensif,” katanya. Dia meminta, para pedagang dan pemegang tata niaga unggas untuk benar-benar diawasi kinerjanya.
Selain koordinasi antara semua pihak di lapangan, dia menekankan perlunya aturan pengganti Perda sebelum ditetapkan Perda yang baru. ”Kalau tidak situasinya akan bertambah kacau,” katanya.
Rofiqi Hasan
INDEKS BERITA LAINNYA :
|