Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kepemilikan Hutan Masyarakat Indonesia Terancam
Sabtu, 01 Desember 2007 | 08:36 WIB

TEMPO Interaktif, Denpasar:Kepemilikan hutan oleh masyarakat terancam hilang terkait skema perdagangan karbon yang akan dirundingkan dalam Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Bali, 3-14 Desember. Hal ini karena tidak ada kejelasan mekanisme perlindungan terhadap masyarakat adat di sekitar hutan.

Hira P. Jhamtani, aktivis Third World Network, LSM internasional yang menggeluti lobi-lobi internasional bidang lingkungan dan globalisasi, menyatakan hal itu pada diskusi yang diselenggarakan Walhi Bali dan AJI Denpasar di Sloka Institute, Denpasar, Jumat malam (30/11).

Hira mengatakan salah satu agenda pemerintah Indonesia adalah negosiasi perdagangan karbon. Secara teknis, Indonesia akan menghitung berapa potensi pendapatan dari hutan Indonesia dalam menyerap karbon untuk mengurangi emisi. Jika pada UNFCCC ini disepakati harga perdagangan karbon ini, maka yang belum terpikirkan dalah soal hak masyarakat Indonesia atas kepemilikan hutan.

“Apakah nanti akan ada polisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengawasi hutan Indonesia yang diperdagangkan itu?” tanya Hira, aktivis Indonesia yang berada di baris depan menolak rekayasa genetika dan rezim paten Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) ini.

Selain itu, juga dipertanyakan bagaimana hak masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan seperti mengambil buah atau bahan makanan. Padahal sebagian masyarakat adat di taman nasional Indonesia eksis melindungi hutan karena mendapatkan manfaat dari hasil hutan untuk kehidupan.

Karena terancamnya kepemilikan hutan, Hira mengharapkan masyarakat sipil terus mengawasi perundingan ini. Perdagangan karbon tidak bisa dielakkan karena sudah masuk agenda nasional. “Itu realita. Kalaupun kita teriak tidak boleh jual-beli karbon, kenyataannya mereka akan tetap. Jadi kita harus cerdas menyikapi,” tambah lulusan Fakultas Biologi Universitas Nasional ini.

Hira mengingatkan, negara-negara maju getol ingin membeli hak pengelolaan hutan karena ada bisnis masa depan di situ, yakni bisnis keragaman hayati. Bisnis itu, menurut Hira, adalah sumber daya genetik.

Menanggapi pernyataan itu, Agung Wardana dari Walhi menyebutkan, Taman Nasional Bali Barat pun sudah dilirik untuk penelitian kenekaragaman hayati ini. “Kita khawatir banyak hutan yang diamati, kemudian bila ditemukan hal baru, akan dipatenkan dan jadi komoditi,” kata Agung.

Rofiqi Hasan

Dari Arsip Majalah TEMPO
Adat Papua Tidak Sama dengan Wilayah Lain | 11 April 2005
Aparat Terlibat Pembalakan Liar | 11 April 2005
Berseteru Hutan Warisan di Papua | 11 April 2005
Bara Api di Sekitar Merbau | 28 Maret 2005
Kejahatan di Hutan Kita | 28 Pebruari 2005
Segunung Perkara, Sedikit Sidang | 28 Pebruari 2005
Terseret Permainan Cukong  | 28 Pebruari 2005
Kisah Merbau yang Pergi Jauh | 28 Pebruari 2005
Kapal Kami Hanya Dicarter | 24 Januari 2005
Dokumen Aspal Kayu Ilegal | 24 Januari 2005
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kaban: Aturan Izin Kehutanan Sudah Cukup Baik
Kaban: Hentikan Penertiban Kehutanan di Riau
Penggundulan Hutan di Timor Tengah Utara Meresahkan
Tokoh Riau Dukung Kehadiran Greenpeace
Hutan Lindung Riau Porak-Poranda
Petugas Musnahkan 200 Ribu Batang Kayu Sitaan
Warga Sandera Alat Berat Milik Penguasa HPH
Illegal Logging Masih Tinggi di Aceh
Kalimantan Tengah Meminta Helikopter
Jalur Pendakian Gunung Lawu Dijaga Ketat
> selengkapnya...

Referensi

Rugi Lebih dari Seribu Triliun
Hak-hak Masyarakat Adat dan Masalah serta Kelestarian Lingkungan Hidup di Indonesia
PP RI No.30 Thn.2003 Tentang Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani)
UU RI No.27 Thn.2003 Tentang Panas Bumi
Keppres RI No. 114 Tahun 1999 Tentang Penataan Ruang Kawasan Bogor-Puncak-Cianjur
> selengkapnya...

Website

Illegal Logging Response Center
Departemen Kehutanan
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI)
Berita Bumi
Situs Forest Watch Indonesia
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk112685 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Mobil Pengambil BLT di Subang Terguling
Perda Peredaran Hasil Hutan Ditolak
Jawa Barat Lanjutkan Program Subsidi Kedelai
Hermawan Sulistyo Galang Golput Di Jawa Timur
Ralahalu-Assagaf Unggul dalam Pilkada Maluku

<< December,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data