|
Jawa Timur
Batu Siaga I Banjir dan Tanah Longsor
Jum'at, 26 November 2004 | 15:11 WIB
TEMPO Interaktif, Malang: Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menyatakan status siaga I terhadap bencana banjir dan tanah longsor di daerahnya seiring dengan datangnya musim hujan. Status siaga ini diterapkan karena banyaknya daerah yang rawan longsor dan banjir. "Ada 24 titik rawan banjir dan longsor," kata Kepala Kesbang Linmas Kota Batu, Susetya Herawan kepada Tempo di kantornya, Jumat (26/11).
Menurut Susetya yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Satuan Pelaksanaan Penanggulangan Bencana ALam (PBA), penentuan titik rawan bencana banjir dan longsor tersebut berdasarkan kajian Tim Satlak PBA dan Dinas Sumber Daya Air dan Mineral yang bekerja sama dengan Universitas Gajamada Yogjakarta dan Universitas Pembangunan Nasional Surabaya. Ke 24 titik rawan tersebut ada di wilayah Songgoriti (6 titik), Sumberrejo (1 titik), Oro-Oro Ombo (3 titik), Tlekung (6 titik), Tulungrejo (4 titik), Gunungsari (1 titik) dan Pesanggrahan (6 titik). Dari sejumlah lokasi tersebut titik paling rawan banjir dan tanah longsor ada di Pesanggrahan.
Seiring dengan diterapkanya status siaga I, Satlak PBA telah mensiagakan Tim SAR, Posko pengaduan dan pemantauan pada daerah rawan banjir oleh Tim Satgana. Satlak PBA juga menyiagakan dua truk untuk digunakan patroli keliling Kota Batu saat hujan turun, menyiagakan peralatan medis dan peralatan berat. Kepada masyarakat, PBA menghimbau untuk selalu siaga baik saat hujan turun maupun setelah hujan. "Petugas di Posko siaga 24 jam," ujar Susetya.
Sementara itu, M Chudori, Wakil Walikota Batu mengatakan banjir dan tanah longsor di Kota Batu disebabkan karena sering terjadinya perambahan hutan lindung secara liar, baik itu hutan yang dikelola Perhutani maupun Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Balai Taman Hutan Rakyat. "Hutan di sekitar kota Batu sudah habis," katanya.
Ketika hutan di Batu sudah habis, ungkap M Chudori, mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor di musim hujan. Sedangkan, di musim kemarau mengakibatkan kekeringan. M Chudori mengakui, banjir yang terjadi di Kota Malang dan Kabupaten Malang bagian barat bersumber dari banjir di Kota Batu. Karena kota Batu secara geografis lebih tinggi dibandingkan dengan Malang.
Bibin Bintariadi - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|