Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nusa

Pengusaha Malang Akan Mogok Jika BBM Dinaikkan
Jum'at, 07 Januari 2005 | 18:44 WIB

TEMPO Interaktif, Malang: Sebanyak 165 pengusaha skala besar, menengah dan kecil yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Malang dan Kota Batu (Malang Raya) menolak rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 40 persen. Pengusaha menolak, karena kenaikan ini akan berdampak pada kenaikan biaya produksi sebesar 12,5 persen. ?Kenaikan sebesar ini akan membuat perusahaan kolaps,? kata Sekretaris Apindo Malang Raya, Sugeng Kurniadi.

Sugeng Kurniadi mengungkapkan hal tersebut saat berdiskusi dengan para wartawan di Malang, Kamis (6/1). Sugeng menilai rencana kenaikan sebesar 40 persen sangat tidak realistis dan terkesan terburu-buru. Seharusnya, kenaikan harga BBM diterapkan secara bertahap. Untuk tahun ini, kenaikan BBM yang ideal tidak lebih dari angka inflasi nasional yang mencapai sekitar 5 persen.

Sugeng yang memimpin PT Cipta Sarana Daya meyakinkan jika pemerintah ngotot menaikkan harga BBM sebesar 40 persen, maka perusahaan akan melakukan efisiensi besar-besaran, baik dalam pembiayaan, rasionalisasi karyawan maupun rasionalisasi upah buruh. ?Bisa jadi upah buruh yang baru naik, akan diturunkan lagi akibat ketidakmampuan keuangan perusahaan.?

Perusahaan, ungkap Sugeng, akan melakukan perlawanan jika pemerintah ngotot menaikkan harga BBM. ?Jika tidak melawan, kami akan bangkrut.? Bentuk perlawanan, antara lain, demonstrasi dan menggelar aksi mogok.

Selain soal harga BBM, Sugeng juga berkeluh kesah soal masih banyaknya pungutan liar, baik dari oknum dan lembaga pemerintah, militer dan partai politik di Kota Malang. ?Kami sering dimintai sumbangan untuk macam-macam kegiatan, dari ulang tahun, diskusi hingga lomba-lomba,? ujarnya. ?Jika tidak diberi, ada saja yang salah pada perusahaan kami.?

Pengeluaran rata-rata setiap perusahaan untuk keperluan pungutan liar tersebut mencapai 7-15 persen dari total penjualan. ?Pungli ini ekonomi biaya tinggi yang sulit dipangkas,? tutur Sugeng.

Bibin Bintariadi?Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pemerintah Diminta Pertimbangkan Kembali Kenaikan LPG
Ribuan Buruh Demo Antikenaikan BBM di Istana
Mahasiswa Pekanbaru "Segel" Mobil Pertamina
Mahasiswa UGM ?Segel? Kantor Pertamina
Mahasiswa Mataram Ajak Turunkan SBY-Kalla
Mahasiswa Makassar Demo Kantor Pertamina
Komisi XI DPR Tolak Kenaikan BBM
Mahasiswa Solo Bakar Kompor di Depan Pom Bensin
Pertamina Tak Akan Turunkan Kembali Harga Elpiji dan Pertamax
Pom Bensin Sukabumi Ancam Boikot Jual Pertamax
> selengkapnya...


Website

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)
PT Pertamina


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data