|
Nusa
Penyakit Demam Berdarah Mulai Meluas di DIY
Senin, 24 Januari 2005 | 18:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Penyakit demam berdarah di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, memasuki minggu keempat Januari 2005, mulai meluas. Tercatat, ada 32 penderita demam berdarah di lima kabupaten.
Namun, jumlah penderita itu diperkirakan jauh lebih besar karena belum semua data di lapangan dilaporkan.
Data yang dihimpun dari lima kabupaten/kota yang ada di DIY menyebutkan, hingga minggu ketiga Januari 2005, jumlah penderita demam berdarah di Kabupaten Sleman mencapai lima orang. Para penderita itu tersebar di tiga kecamatan dan semuanya sempat dirawat inap di rumah sakit.
Sedangkan di Kabupaten Kulonprogo, jumlah penderita demam berdarah mencapai 11 orang (terbanyak), di Kabupaten Gunungkidul 10 orang, Kabupaten Bantul lima orang, dan di Yogyakarta satu orang.
Menurut Kepala Bidang Pengembangan dan Perencanaan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo Taufik, jumlah penderita demam berdarah dari minggu pertama hingga minggu keempat kuartal pertama ini, trennya mengalami kenaikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
“Angka pastinya masih didata,” kata Taufik kepada Tempo di Kulonprogo, DI Yogyakarta.
Dia menjelaskan, persoalan yang dihadapi Kabupaten Kulonprogo, selain daerahnya yang berbukit-bukit tetapi juga masih banyak daerah yang belum terjangkau alat komunikasi, terutama telepon sehingga up date data untuk Kulonprogo kesulitan.
Sementara itu, dari Kabupaten Sleman, penderita demam berdarah hingga minggu ketiga Januari 2005 ini ada lima pasien.
Menurut Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo, tahun lalu wabah penyakit ini masuk kategori kejadian luar biasa karena pada awal tahun saja, jumlah penderitanya telah mencapai ratusan.
Sepanjang tahun lalu, tercatat ada 722 penderita demam berdarah dengan korban meninggal mencapai 14 orang.
Untuk mengantisipasi terjadinya ledakan penderita demam berdarah, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman terus melakukan penyuluhan dan siap melakukan pengasapan (fogging) kapan saja untuk memenuhi permintaan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DI Yogyakarta Bondan Agus Suryanto menghimbau agar masyarakat Yogyakarta mewaspadai kemungkinan meluasnya penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegepty itu dengan menggiatkan pemberantasan sarang melalui gerakan tiga M,yaitu menguras bak air, menutup, dan mengubur benda-benda yang dapat dijadikan sarang maupun tempat perkembangan nyamuk itu.
Selain wilayah perkotaan, daerah lain yang perlu mendapat perhatian serius adalah sepanjang bukit Menoreh dan daerah-daerah yang banyak ditanami salak, karena kebun salak sering dijadikan tempat nyamuk bertelur.
Syaiful Amin - Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|