|
Nusa
75 Persen Kota Solo Daerah Endemi Demam Berdarah
Rabu, 26 Januari 2005 | 16:14 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dinas Kesehatan Kota Solo menyatakan bahwa 75 persen daerah di kota ini merupakan daerah endemi demam berdarah dengue, karena dari total 51 kelurahan yang ada, sebanyak 38 kelurahan selama tiga tahun berturut-turut ditemukan kasus demam berdarah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo Purnomo Dwi Putro mengatakan, kriteria penentuan daerah endemi adalah jika di daerah itu selama tiga tahun berturut-turut ditemukan kasus demam berdarah. “Hanya satu kelurahan saja yang selama tiga tahun terakhir ini tidak diemukan kasus,” kata Purnomo di Solo hari ini.
Sedangkan 12 kelurahan lainnya masuk kategori daerah sporadis. Artinya, dalam tiga tahun terakhir ini, tidak setiap tahunnya muncul kasus demam berdarah.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Solo, sepanjang tahun lalu terjadi 285 kasus demam berdarah dengan korban meninggal sebanyak lima orang. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah kasus demam berdarah tahun lalu itu meningkat 36 persen dari tahun 2003 yang mencapai 209 kasus. “Tetapi jumlah korban yang meninggal pada 2003 sama lima orang,” katanya.
Sementara itu, incident rate atau angka kejadian demam berdarah pada 2004 juga meningkat dari 3,7 berbanding 10 ribu menjadi 5,1 berbanding 10 ribu. Artinya, setiap 10 ribu penduduk, terdapat lima orang yang terkena demam berdarah.
Purnomo menjelaskan, puncak serangan penyakit yang ditmbulkan virus dengue dari nyamuk Aedes Aegypti ini selalu berubah-ubah. Pada 2003, demam berdarah mencapai puncaknya pada bulan Mei-Juni, tetapi pada 2004 terjadi pada Februari-Maret. “Acuan terjadinya adalah ketika terjadi pergantian musim,” katanya.
Dia menambahkan, pemberantasan nyamuk Aedes Aegypti di Solo mengalami sejumlah kendala diantaranya adalah mobilitas penduduk yang tinggi serta pemukiman yang padat, sehingga menyulitkan pemberantasan.
Sampai kini, belum ada obat pembunuh jenis nyamuk ini. Padahal, seekor nyamuk Aedes setiap tiga hari mampu menghasilkan 100 telur. “Yang paling mungkin adalah pencegahan terhadap penularan,” kata Purnomo.
Imron Rosyid - Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|