|
Tak Ada Dana Kompensasi untuk Flu Burung
Jum'at, 01 April 2005 | 17:38 WIB
TEMPO Interaktif, SOLO:Tahun ini pemerintah pusat tidak akan mengalokasikan anggaran dana kompensasi bagi peternak yang unggasnya mati akibat virus flu burung (Avian Influenza, AI) atau sejenisnya. Untuk mengatasi wabah flu burung, pemerintah hanya menyediakan anggaran untuk vaksinasi dan pengobatan lainnya secara gratis.
“Pada 2004 pemerintah memang mengalokasikan dana kompensasi bagi peternak yang merugi akibat serangan AI. Karena tahun lalu virus AI menjadi wabah nasional. Untuk tahun ini menurun sangat drastis karena hanya beberapa kota saja yang terkena,” ujar Dirjen Bina Produksi Peternakan Departemen Pertanian, Wasito kepada wartawan di Solo, Jawa Tengah, Jum’at (1/4).
Meski demikian, lanjut Wasito, pihaknya tidak tinggal diam terhadap para peternak merugi dan kesulitan modal. Pihaknya akan mendorong bank agar memberikan kemudahan kepada peternak yang akan mengambil pinjaman.
“Kami juga akan menghimbau gubernur dan bupati agar mengakomodasi bantuan bagi peternak. Kami minta para kepala daerah memberikan bantuan untuk peternak yang unggasnya banyak yang mati,” ujarnya.
Wasito memastikan, untuk sementara hanya empat kota/kabupaten di Indonesia yang dilanda virus flu burung. Semuanya berada di Propinsi Sulawesi Selatan yaitu Wajo, Maros, Sopeng dan Sidrap. Sementara musibah kematian unggas di beberapa daerah lain tidak bisa dipastikan karena virus AI.
Untuk menentukan apakah penyebab kematian unggas adalah flu burung, kata Wasito, dibutuhkan diagnosa yang cermat. Banyaknya unggas yang mati seperti di Jawa Tengah, misalnya, belum bisa dipastikan karena virus flu burung. “Mungkin baru dugaan dan dugaan pun masih jauh. Karena diagnosa masih sebatas pada gejala klinis dan patologi. Masih harus dilakukan pemeriksaan darah,” katanya.
Karena itu, ia menghimbau masyarakat agar tidak khawatir. Pemerintah juga akan menindak tegas pedagang atau daerah yang memblokir atau menolak unggas dari daerah lain tanpa alasan yang jelas.
“Kalau alasannya tidak jelas misalnya hanya karena isu flu burung, lalu melarang masuknya unggas dari daerah lain maka daerah atau pedagang itu harus diberi peringatan dan tindakan tegas. Hal itu justru menimbulkan ketakutan yang berlebihan,” kata Wasito. anas syahirul
INDEKS BERITA LAINNYA :
|