|
Pabrik Tekstil Jateng Terancam Gulung Tikar
Selasa, 16 Agustus 2005 | 20:07 WIB
TEMPO Interaktif, Solo:Ratusan pabrik tekstil di Jawa Tengah terancam gulung tikar menyusul kenaikan harga BBM untuk kalangan industri hingga 150 persen. Pasca-pemberlakuan harga BBM jenis solar sesuai pasar internasional per 1 Agustus lalu, sejumlah perusahaan telah merumahkan karyawannya dan menutup produksi mereka pada hari Sabtu dan Minggu. Kini mereka menyiapkan sejumlah langkah drastis dengan berancang-ancang melakukan pemutusan hubungan kerja massal terhadap karyawannya karena produk mereka kalah bersaing.
Hal ini dikemukakan sejumlah pengusaha tekstil dalam pertemuan dengan pengurus Badan Pengelola Daerah (BPD) Asosiasi Pertesktilan Indoneisa (API) Jawa Tengah dan pengurus Badan Pengelola Cabang (BPC) se-Jawa Tengah, di Hotel Comfort Inn, Solo, Selasa (16/8).
"Mesin-mesin di pabrik kami sudah 50 persen tidak lagi beroperasi," kata Shin Jin Ho, pengusaha tekstil dari PT Hanil Indonesia, Boyolali.
Perusahaan lain, PT Tyfountex, bahkan berancang-ancang untuk melakukan PHK terhadap 500 karyawannya pada bulan depan. Menurut Puji, direktur Tyfountex yang mewakili perusahaan tekstil di Sukoharjo, kenaikan BBM telah menyebabkan kenaikan biaya produksi. Khusus untuk pembelian solar, Tyfountex telah mengeluarkan biaya sebesar Rp 5 miliar sampai pertengahan Agustus. "Kalau keadaan tak berubah, kami berencana melakukan PHK lagi terhadap 1.000 karyawan kami pada Desember nanti," ujarnya.
Sekretaris API Jawa Tengah, Joko Santosa, mengakui bila sejumlah perusahaan tekstil telah menempuh berbagai langkah untuk menyiasati kenaikan BBM. Dia menyebut PHK massal tersebut sebagai efesiensi karena perusahaan tak mampu menutup kerugian yang dideritanya. Akibat kenaikan BBM industri membuat biaya produksi naik menjadi 25 persen. (Imron Rosyid)
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|