Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

250 Tahun Pura Mangkunegaran
Minggu, 25 Pebruari 2007 | 10:31 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pura Mangkunegaran Solo menggelar peringatan 250 tahun berdirinya kerajaan Mangkunegaran. Rangkaian peringatan yang didirikan Pangeran Sambernyawa itu akan berlangsung hingga Agustus mendatang. Sabtu (24/2) malam, rangkaian peringatan itu diawali dengan tasyakuran dan wilujengan di Pendapa Pura Mangkunegaran yang kondisinya tengah mengenaskan.

Penguasa Pura saat ini, KGPAA Mangkunagoro IX dalam pidatonya meminta agar perjuangan dan ajaran Pangeran Sambernya dilestarikan dengan melaksanakan ajaran-ajarannya. Salah satunyanya dalah menjaga keseimbangan, kerukunan, dan kebersamaan di antara pemimpin dengan rakyat. "Hanya dengan demikian kita dapat hidup tentram," ujarnya.

Mangkunegaran merupakan kerajaan kecil atau kadipaten yang berdiri setelah perlawanan panjang Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa terhadap raja Kasunanan Surakarta yang dianggapnya sebagai boneka dari kolonial Belanda. RM Said bersedia menghentikan perlawanannya secara fisik setelah diadakan Perjanjian Salatiga yang memecah wilayah Kasunan.

Menurut Sejarawan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Sudarmono, meski hanya kerajaan kecil namun secara politik ekonomi, Mangkunegaran lebih mandiri. Pada masanya, Mangkunegaran memiliki sumber-sumber pendapatan yang modern, karena tidak lagi bersandar pada system lungguh. "Mangkunegaran mendirikan dua pabrik gula sendiri untuk menghidupi kerajaan," kata dia.

Menurut Penanggung Jawab Peringatan 250 Tahun Mangkunegaran Wikan Basworo ada sejumlah kegiatan yang akan digelar mulai dari pertunjukan fragmen perjanjian pengakuan kedaulatan oleh Belanda di Kalicacing, Salatiga hingga dengan napak tilas yang bertujuan mengenang kisah perjuangan RM Said saat bergerilya melawan Belanda.

Imron Rosyid

Dari Arsip Majalah TEMPO
Silang Sengkarut Berebut Takhta | 11 April 2005
Penobatan  | 31 Mei 1999
Kotak Pandora Menggoyang Takhta  | 14 Juni 2004
Baur dan Bandar | 07 Juli 1984
Silakan Memakai Gelar | 17 Oktober 1987
Hilangnya Sang Adipati | 17 Oktober 1987
Wangsit Untuk Majapahit | 26 September 1987
Ia Boleh Menyandang Gelar... | 19 September 1987
Beraksi di Makam Raja | 14 November 1987
Ia Seorang Manusia Linuwih | 15 Oktober 1988
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Berebut Berkah Air Cucian Kereta Pusaka
Keraton Solo Gelar Grebeg Syawal
Warga Yogyakarta Tak Minati Lagi Sepeda Onthel
Presiden Minta Proyek Lahan Gambut Dilanjutkan
Gubernur Jawa Tengah Takut Masuk Penjara
Kepala Polda Sulawesi Tengah Disambut Demo
Gubernur Jambi Stop Impor Kedelai
Pemain Band Didakwa Menghina Polisi
Lelang Penanganan Korban Gempa Selesai Oktober
Koalisi 14 Partai Minta Uang ke Gubernur
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk94170 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

IPB Kembangkan Sentra Benih Kedelai di Luar Jawa
Diduga Perampok, Mobil Fortuner di Hancurkan Massa
Empat Calon DPD Sumatera Selatan Terancam Gugur
Verifikasi Faktual DPD Lampung Terancam Molor
Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah

<< February,2007>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data