Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Dampak semburan Lumpur Lapindo

Biaya Investasi Air Bersih Umbulan Membengkak
Kamis, 19 April 2007 | 08:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Semburan lumpur panas Lapindo yang kian meluas mengakibatkan membengkaknya biaya investasi untuk membangun proyek eksplorasi air minum Umbulan. Sebelum terjadi semburan, nilai investasi sebesar Rp 1,3 triliun, tapi saat ini bertambah menjadi Rp 1,6 triliun.

‘’Membesarnya biaya investasi itu proyek itu harus mengubah rute jalur pipa menjauhi daerah genangan lumpur,’’ kata Chaerul Djaelani, Kepala Dinas Pemukiman Dan Prasarana Wilayah Jawa Timur, kepada TEMPO, pagi ini.
Chaerul Djaelani menjelaskan, pemindahan rute itu membuat jaringan pipa transmisi menjadi lebih panjang. Hal itu berakibat pada pembengkakan biaya pembebasn tanah.

‘’Sebelumnya kami mengganggarkan biaya pemasangan jaringan pipa transmisi Rp 700 milyar, tapi karena lumpur Lapindo membengkak menjadi Rp 1 trilyun," ujanya. Sedangkan sisa dana Rp 600 milyar digunakan untuk biaya pemasangan jaringan pipa distribusi ke pelanggan.

Dari total nilai investasi, kata Chaerul, harga jual Perusahaan Daerah Air Minun (PDAM) sekitar Rp 1.400 hingga Rp 1.700 per meter kubik, maka yang akan ditawarkan untuk dibiayai investor sekitar Rp 600-Rp 700 milyar. ‘’Selebihnya harus dibiayai pemerintah,’’ kata Chaerul.

Seperti diwartakan TEMPO sebelumnya, Pemerintah Propinsi Jawa Timur memulai kembali proyek air minum Umbulan. Proyek tersebut telah direncanakan Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) Jawa Timur dan Dinas Pekerjaan Umum sejak 1980. Namun, tersendat realisasinya karena setiap investor yang sudah menang tender mundur sebelum memulai pekerjaan.

Pembengkakan biaya investasi itu, menurut Chaerul, dapat menyulitkan Pemerintan Provinsi Jawa Timur untuk mengundang investor. Karena kendala utamanya adalah penentuan harga jual dari investor ke Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) maupun harga jual dari PDAM ke pelanggan. "Persoalan tarif itulah yang membuat para investor selama ini mundur," ujarnya.

Jalil Hakim


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

PDAM Bekasi Minta DPU Dangun Gorong-Gorong
Warga Keluhkan Air PDAM Tangerang
DPRD Tangerang Minta PDAM Dijual

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk98313 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Hermawan Sulistyo Galang Golput Di Jawa Timur
Ralahalu-Assagaf Unggul dalam Pilkada Maluku
Pansus Pemekaran Bogor Barat Dibentuk
Kaum Muda Timor Leste Tuntut Pembebasan Mahasiswa
Penyerapan Kredit Pangan 20 Persen

<< April,2007>>
MSnSl RK JS
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data