|
Produksi Susu Sapi Boyolali Merosot
Senin, 30 Juli 2007 | 14:19 WIB
TEMPO Interaktif, Boyolali:Para peternak sapi perah di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mengeluhkan kelangkaan air bersih akhir-akhir ini yang berakibat produksi susu sapi merosot cukup drastis. Akibatnya, pendapatan para peternak juga merosot.
"Sudah sepekan ini kami mengalami masalah air. Kelangkaan air bersih dampaknya pada merosotnya produksi susu," ujar Salam, peternak sapi perah di Kecamatan Musuk, Boyolali, Senin (30/7).
Menurut Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Tengah, Sri Kuncoro, penurunan produksi susu cukup besar. Jika biasanya 90 ribu liter per hari, belakangan ini turun menjadi 80.000 liter per hari.
"Penurunan diperkirakan terus terjadi selama musim kemarau, karena peternak sapi perah di sentra-sentra produksi peternakan rakyat menghadapi kelangkaan air bersih dan makanan hijau-hijauan seperti rumput untuk ternak," katanya.
Menurut para peternak, jika musim kemarau datang seperti saat ini banyak peternak yang terpaksa menjual sapi. Selain sulit perawatannya karena kesulitan air bersih, juga hasil penjualan tersebut dipakai untuk menopang kehidupan sehari-hari karena pendapatan dari produksi susu merosot.
"Selama ini kekurangan pakan dan air bersih di musim kemarau jadi kendala utama peternak. Pasalnya dampaknya langsung pada pendapatan. Kualitas dan kuantitas produksi susu melorot," kata Suyitno, peternak lainnya.
Jika musim kemarau tiba, standar kualitas produksi susu peternak Boyolali berada di posisi kelas III atau di bawah itu. Harganya pun sangat rendah, yakni antara Rp 2.000 dan Rp 2.500 per liter. Sedang kalau bisa mencapai kualitas II atau I maka harganya akan semakin mahal.
Data di GKSI Boyolali menyebutkan, saat ini jumlah populasi sapi perah di Boyolali tercatat 45.000 ekor tersebar di tujuh kecamatan, yaitu Ampel, Boyolali Kota, Mojosongo, Cepogo, Musuk, Selo, dan Teras.
Anas Syahirul
INDEKS BERITA LAINNYA :
|